28 Mei 2020

Tiga hari lagi akan memasuki bulan Juni, namun pandemi corona belum juga usai. Saya lihat geliat akademisi dari luar negeri yang giat mengadakan webinar. Saya kira di Indonesia juga sama. Saya yakin banyak orang yang terpaksa berdaptasi dengan kondisi ini untuk tetap bisa berkarya, bagaimanapun caranya. Berkarya adalah masalah mengalahkan rasa “malas” diri yang sumbernya bisa beranekaragam seperti karantina mandiri bisa menjadi salah satu penyebabnya. Mengalahkan rasa malas ini tidak bisa dengan dipaksa karena bisa berujung stres yang pastinya kontraproduktif, namun harus dihadirkan rasa senang. Rasa senang ini umumnya hadir dalam hobi namun tidak dengan pekerjaan meskipun sumbernya juga dari hobi. Hal ini dimungkinkan karena pekerjaan adalah terkait dengan target ; batasan waktu, standar, dan sebagainya yang itu tidak bisa terserah kita. Ada orang lain yang menentukan.

Saya kira seberapa besar tekanan, pekerjaan harus selesai. Meskipun harus dilalui stres dan puyeng karena itu adalah satu paket. Apalagi pekerjaan yang terkait dengan mikir, pastinya stresnya berlapis. Tinggal bagaimana kita mengelolanya. Untuk menyelesaikan pastinya harus difokuskan. Tanpa fokus, pekerjaan tidak akan usai yang membuat kita lambat naik level. Pekerjaan tidak untuk keren-kerenan tapi untuk diselesaikan. Setelah selesai pindah ke pekerjaan lain karena itulah hidup. Lalu kapan berhentinya ? Mati, saat raga terpisah dengan ruh. Tapi bagi orang yang beriman, ruh ini akan dimintai pertanggungjawaban di alam lain. Berarti pekerjaan akan tetap ada meskipun bentuknya sangat berbeda dengan yang ada di dunia.

Duh, tapi diri ini masuk kategori beriman tidak ya? Hati : “_____________”.

 

Jika Corona Berakhir

Sudah lebih dari 2 bulan rasanya saya tidak bebas bergerak dengan seringkali berdiam di kosan. Selama itu juga saya merasa terpenjara dengan ditemani hanya oleh internet. Pastinya Anda semua yang membaca tulisan saya ini juga mungkin merasakan hal yang sama. Tugas kita tak lebih adalah mampu bertahan di kondisi yang tidak mengenakkan ini. Ada yang mengatakan kondisi ini adalah “new normal”, di awal saya sepakat namun setelah saya jalani selama ini saya tidak sepenuhnya sepakat. Buktinya saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan saya (khususnya terkait penulisan/riset) sebagaimana kondisi pra-corona.

Pastinya pandemi ini akan berakhir entah dalam waktu cepat atau lambat. Saat nantinya kita tak lagi khawatir dan waswas dengan virus ini, kehidupan kita pastinya beda yaitu merupakan kombinasi antara kondisi antara pra-corona dan saat corona. Dua kondisi ini yang akan membentuk kehidupan kita pasca-corona. Saya tidak akan terlalu perduli hal ini karena itu adalah pekerjaan para psikolog, ekonom, praktisi kesehatan, dan sebagainya. Di tulisan ini saya coba berandai-andai pandemi corona berakhir dan di masa tersebut apa yang akan saya lakukan.

Setelah lebih dari 2 bulan saya melakukan self-quarantine, ada beberapa aktivitas/hal yang akan saya lakukan pasca-corona. Pertama, pulang kampung. Lebaran ini saya kemungkinan besar tidak pulang, saya rindu Ibuk, Bapak, ponakan, adik, kakak, dan keluarga besar. Saya akan pulang setidaknya 1 minggu full dengan tidak memperdulikan pekerjaan sama sekali. Kedua, liburan. Mungkin saya akan ke Jogja selama 3 hari dengan menikmati segala hal yang ada di sana termasuk bertemu saudara dan teman. Ketiga, menikah. Jika mempertimbangkan kondisi yang belum mapan dan berbagai variabel lain, saya tidak akan beranjak ke jenjang ini padahal saya sudah hampir kepala tiga di samping juga seringkali diingetin oleh Ibuk.

Saya kira tiga hal tersebut yang akan saya lakukan pasca-corona. Saya tidak mau menulis banyak target. Saya sengaja mencatat di blog diary ini karena seringkali saya terlupa dengan apa yang saya inginkan di suatu waktu. Kelupaan ini adalah bukti bahwa kita tidak pernah belajar dan bersyukur. Saya kira tiga hal ini sangat feasible bisa saya lakukan pasca-corona jika saya masi diberikan nikmat sehat oleh Allah swt.

Lebih Dekat

Terlepas semua harus dikerjakan di rumah karena pandemi corona, ada hikmah dibaliknya. Satu hal yang terasa yaitu lebih dekat dengan orang yang kita cintai seperti keluarga. Jika pada kondisi biasanya saya telpon orangtua khususnya Ibuk seminggu sekali, kini hampir setiap 2 hari sekali. Ngobrol dengan Ibuk biasanya paling lama, baru kemudian Bapak juga ponakan (biasanya Video Call) dan sodara.

Di balik bencana ini ada hikmah dibaliknya pastinya.

Apalagi ditambah dengan bulan puasa di mana perut kosong, saya merasa pikiran lebih jernih khususnya ketika pas menelaah paper. Mungkin puasa adalah kunci orang-orang jadi dimudahkan dalam menuntut ilmu. Moga saja, pekerjaan saya yang terkait dengan riset dimudahkan dalam pengerjaannya saat puasa ini.

O iya, saya sedang mendengarkan salah satu lagu favorit “Paradise by  Coldplay” via Youtube 🙂

 

Di Kantor Lagi (Hari-3)

Mumpung lagi di toilet saya sempatkan nulis di blog ini. Pagi tadi saya dapat invite dari lab untuk gabung di grup Microsoft Teams. Saya segera install app tersebut di hape dan login, alhamdulillah lancar. Nantinya grup ini dipakai untuk memonitoting kerjaan buat buku.

Saya memulai download beberapa pdf buku untuk dijadikan rujukan dalam buat kerangka buku. Ada tiga buku yang saya ambil. Outline pun segera saya buat untuk nantinya saya kirim ke email dua rekan saya di lab.

Hari ini saya rencananya selain membuat outline buku juga akan menyelesaikan draft majalah. Tentunya pekerjaan administratif tetap juga dijalankan, minggu depan mau adakan rapat online via WA yang melibatkan banyak unit di kampus.

Udahan ya, emas dari perut saya udah nggak mau keluar lagi. Tiba waktunya saya kembali ke tempat kerja 🙂

Kebodohan

Sejak sabtu kemarin saya membatasi diri untuk berinteraksi dengan dunia luar sebagaimana anjuran untuk pencegahan COVID-19. Ini jelas tidak mudah bagi saya mengingat frekuensi saya untuk tinggal di kosan lebih kecil dibandingkan dengan di luar. Hampir setiap sore sampai malam waktu saya habiskan di kedai kopi. Selebihnya setibanya saya di kosan tak lama kemudian tidur. Artinya saya menggunakan waktu di kosan umumnya adalah untuk beristirahat.

Anjuran “social distancing” ini sejujurnya membuat saya justru tidak produktif  terlihat untuk empat hari terakhir ini. Ketidakproduktifan ini membuat saya jadi stres. Mungkin ini adalah akumulasi karena saya tidak lagi menjalani kopi sore dan juga jogging pas pagi. Puncaknya hari ini, saya akhirnya melakukan hal bodoh lagi. Hal bodoh ini berarti secara logis Anda tidak akan melakukan, namun karena kondisi diri Anda yang labil membuat hal tersebut dilakukan. Ya, “Menjadi manusia rasional tak berarti Anda akan selalu bertindak rasional”. Begitulah kiranya hikmahnya.

Saya yakin ini adalah siklus. Siklus ini akan selalu datang, tinggal kita bagaimana mengelolanya sehingga hal bodoh ini tidak semakin besar yang membuat diri kita jadi jauh dari sifat kemanusiaan.

Saya berharap besok bisa jauh lebih produktif dan bisa berfikir positif untuk menjalani hari-hari yang berat ini.

Minggu Sore

Segelas vietnam drip dan sepotong brownis saya sudah habis, sementara seorang yang saya tunggu belum juga datang.

Satu video terkait Mark Zuckerberg di Youtube juga sudah habis saya tonton. Di sela menunggu, saya mencoba mengisi blog saya ini.

Besok sudah hari senin, artinya sudah kembali sibuk dengan pekerjaan. Besok kabarnya ada Dies ITB dengan beberapa orang yang akan mendapatkan penghargaan.

Di awal minggu ini saya sempat membuat podcast di salah satu platform, tinggal video Youtube-nya yang belum. Jumat kemarin, adobe Premier baru saja dibantu install oleh mahasiswa magnat di PC kantor. Rencananya minggu depan di sela-sela waktu kosong, saya bisa meulai belajar editing video.

Saya tidak cukup tartarik berbisnis media konvensional, apa yang saya kerjakan sepenuhnya adalar hobi dan idealisme. Ya, saya tidak tahu nanti dan masa depan. Pikiran saya sangat mungkin akan berubah.

O iya, tadi siang saya selesai menonton video 1.5 jam profil seorang Jeff Bezo di Youtube. Setelah menonton video tersebut saya dapat simpulkan bahwa Jeff adalah seorang jenius di mana Amazon sebagai platform e-commerce adalah salah satunya, dia punya lini bisnis lain mulai dari internet backbond sampai infrastruktur untuk misi luar angkasa.

Jika saya dosen, saya sangat tertarik untuk mengajarkan bisnis-bisnis strategis superti yang dilakukan Jeff dan Mark kepada mahasiswa. Saya tidak tertarik untuk mengajar industri kreatif yang umum diajarkan di sekolah bisnis di Indonesia saat ini.

 

20-02-2020

Hari ini bertepatan dengan tanggal yang baik 20-02-2020. Kebetulan saya tidak masuk kantor, seharian di kosan saya. Malam ini saya berencana bertemu teman saya yang domisili Jakarta kebetulan ada dinas di Bandung.

Beberapa hari terakhir saya merasa tidak enjoy dengan aktivitas yang setiap hari saya jalankan. Bisa dikatakan hari ini adalah puncaknya, namun yang menarik tadi siang pas saya makan siang di Ibu kosan. Ibu kosan bilang ke saya, “Kemarin saya mimpi kamu bawa ikan besar dan diberikan ke saya, itu pertanda kamu akan mendapatkan rizki besar”, saya membalas “Amiin Bu”.

Hidup di tengah rutinitas sangat membosankan sekali, saya seringkali berfikir untuk rehat sejenak selama satu minggu dari aktivitas ini untuk sekedar menikmati hidup. Saya sampai sore tadi bisa dikatakan gabut tapi untungnya saya pada dasarnya orang yang gak bisa benar-benar gabut. Whatsapp saya masih “ON”, saya tetap menjawab hal-hal terkait pekerjaan.

Untungnya tadi sore saya menonton sampai habis film “LION”. Kisah anak hilang India yang tumbuh diadopsi oleh sepasang orangtua baik Australia. Setelah 25 tahun berpisah, anak yang bernama Saroo ini setelah perjuangan keras akhirnya menemukan Ibu biologisnya. Momen pertemuan ini membuat saya menangis, padahal sudah beberapa kali saya menonton film ini.

Ya, 20-02-2020 mengajarkan saya setidaknya beberapa hal berikut : 1) kejenuhan/stres harus diyakini sebagai sebuah fase kita akan naik kelas di kehidupan ini, 2) stay humble jalani hidup ini dan jadilah pribadi yang tetap punya mimpi besar namun tetap down to earth, dan 3) love your self dengan melakukan hal-hal yang membuatmu semangat dan positif memandang dan menjalani hidup.

Good luck to be kind man 🙂