Ramadhan di Masa Bencana

Marhaban ya Ramadhan …

Azan maghrib berkumandang beberapa menit lalu yang menandakan sudah masuk 1 Ramadhan 1441 H. Biasanya jalanan macet begitupula dengan kampung sekitar kosan yang riuh dengan suara anak-anak. Tapi tahun ini benar-benar berbeda. Jalanan sepi, suara anak-anak terdengar sesekali. Ibadah pertama sholat maghrib pun dilakukan di kamar saja.

Pandemi COVID-19 masih terus berlangsung dan tidak terlihat kapan akan berakhir. Orang terdiagnosis sudah mencapai lebih dari 7 ribu untuk Indonesia dan lebih dari 2.5 orang di dunia. Ramadhan yang merupakan bulan mulia yang didalamnya orang muslim biasa kayak saya jadi semangat beribadah, kini energi dari gairah ini tengah dicoba. Gairah yang dulu distimulus diri dan muslim lain, kini diserahkan dengan diri masing-masing. Kondisi ini terasa sekali seperti saya yang sendirian tinggal di kosan dengan hanya ditemani Ibu dan Bapak kosan.

Mungkin ini adalah cobaan keimanan seorang muslim, apakah dia tetap beriman ataukah justru ingkar.

Seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya, saya telah mencatat target ibadah. Semoga target tersebut adalah pemicu saya untuk kuat menghadapi bencana wabah ini dan juga menjadi pengingat bahwa Ramadhan adalah bulan mulia di mana pengampunan Allah SWT nyata adanya.

Sekali lagi, marhaban ya Ramadhan..

Olahraga

Kelamaan di kosan membuat diri malas untuk olahraga. Tidak seperti pra covid, seminggu tidak jogging badan dipastikan pegal-pegal kemudian saya memaksakan untuk taman fitness. Saya merasakan badan saya pegal-pegal karena keseringan rebahan dan duduk di atas kursi. Namun, udah diniatin untuk olahraga dari sabtu pagi kemarin, gagal. Trus tadi pagi juga gagal. Alasannya tidak lain “mager”.

Ini saya merasakan saya semakin gemuk, padahal saya makan sehari hanya 2 kali. Mungkin seringkali nyemil dan minum kopi/teh menjadi sebab badan saya seperti ini. Kemarin ada rekan kerja bilang “Pipi mas tambah gede”.

Saya kira saya harus memaksa dengan lebih untuk keluar sore ini untuk jogging keliling DU dan Dago. Besok PSBB, barangkali karena itu keluar dilarang sama sekali. Meskipun harus tetap hati-hati dengan jaga jarak dan pakai masker, tapi itu bisa diatasi saat olahraga. Saya sudah charge earphone wireless saya, moga nanti sore cerah dan rencana saya untuk olahraga ringan bisa terlaksana.

Generasi Laskar Pelangi

Saya harus akui bahwa saya merupakan generasi laskar pelangi. Teringat saat itu saya kelas V (2 SMA) yang sedang studi di sebuah pondok pesantren modern di Jogja. Andrea Hirata saat itu langsung menjadi idola setelah saya membaca buku best-seller “Laskar Pelangi”. Saat itu buku akhir tetralogi “Maryamah Karpov” sangat saya tunggu.

“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia” bunyi petikan lagu Nidji di lagu Laskar Pelangi.

Tak hanya novelnya, film-nya pun saya suka. Harus saya akui capaian saya sejauh ini tak bisa dilepaskan dengan Andrea Hirata dan Laskar Pelangi-nya.

Lagu sudah usai, saatnya semangat gapai mimpi harus tetap menyala. Semangat !

Mulai Kerjakan Buku

Alhamdulillah konten untuk majalah kampus akhirnya selesai kemarin, meskipun mungkin akan ada editan dari pengarah tapi saya yakin tidak akan banyak. Selanjutnya tinggal layout dan meramaikan media online-nya sepeti website dan media sosial. Fokus saya sekarang adalah menyelesaikan buku dengan kolega saya di lab. Judul bukunya “Managing Technology Transfer”. Saya menulis dennen dua kolega yang keduanya dosen, maka buku ini harus bagus.

Saya mula konsen mengerjakan hari ini, 11 April 2020, maka targetnya selesai tiga bulan ke depan, 11 Juli 2020.

Karena topiknya ini lebih berat dibandingkan pengerjaaan majalah, saya harus lebih fokus dengan mengurangi distraksi seperti seringkali mendengarkan musik saat bekerja.  Saya harus lebih disiplin dalam mengatur waktu khususnya kapan saya fokus mengerjakan buku, kapan saya mengerjakan pekerjaan lain, dan kapan saya harus fokus pada diri saya seperti refreshing, istirahat, kontak keluarga, interaksi dengan teman, dan sebagainya.

Ok, saatnya mulai bekerja. Selamat pagi !

Motivasi (Hari yang Kesekian)

Setiap hari hanya menyaksikan kasur, laptop, dan hape. Ini sudah memasuki minggu ketiga. Saya sudah merasa terbiasa dengan kebiasaan baru sejak karantina mandiri ini. Di bandingkan dengan minggu pertama yang stresnya bukan main, saya bersyukur bisa tetap hidup dengan kadar kestresan yang mungkin masih di bawah garis kritis. Meksipun uang ada biarpun tidak cukup banyak, namun itu tidak dapat membeli rasa syukur akan hidup. Rasa ini coba saya bangun melalui target pribadi yang dengannya saya merasa masih dibutuhkan oleh hidup.

Ada tiga target saya yaitu menyelesaikan draft majalah kampus, draft buku dengan kolega lab, dan proposal doktoral. Ketiganya ini yang selalu akan menjadi pekerjaan saya setiap hari, disamping rutinitas pekerjaan rutin lain. Saya tidak tahu korona akan berakhir kapan, atau bisa jadi tidak akan berhenti. Setidaknya melalui pekerjaan ini saya merasa punya andil dalam hidup. Majalah memuat misi untuk membumikan sainstek sehingga masyarakat semakin aware, sementara buku akan membuat orang tahu bagaimana transfer teknologi penting untuk sebuah negara. Proposal doktor penting bagi saya untuk melanjutkan studi sehingga saya bisa terus meningkatkan kualitas tulisan saya ke depan.

Target lain yang lebih tidak cukup menguras pikiran yaitu mengaktifkan kanal media saya khususnya Youtube dan podcast. Bahan-bahan sudah ada di otak saya. Saya juga punya tripod, kamera, recorder, dan clip-on. Tinggal atur waktu saya. Melalui cara ini, saya tetap turut berlomba-lomba dalam hal kebaikan melalui menyebarluaskan ilmu pengetahuan.

Saya juga terus menanamkan harapan saat pulang kampung pasca korona nanti, saya telah menyelesaikan pekerjaan penting saya tadi. Di samping membawa berita positif ke Ibu jika saya sudah punya pasangan yang siap untuk diajak berumahtangga segera.

Harapan (Hari-6)

Adik yang sedianya pulang dari Jakarta ke kampung halaman tanggal 31 Maret ini, dipercepat malam ini jam 20.30 WIB. Saya berharap dan berdoa semoga adik saya tidak menjadi carrier untuk COVID19 sehingga tidak menularkan ke orang rumah. Saya sendiri kepikiran jika pada akhirnya Work from Home (WfH) kayak gini terus sampai bulan depan bahkan lebih, mungkin saya akan pulang saat menjelang puasa. Memang lebih baik berdiam saja di kosan, namun melihat kondisi kosan yang kini tinggal dua orang saja dan mungkin nantinya tinggal saya akan dapat membuat psikologis saya bisa keganggu. Interaksi dengan orang lain merupakan ciri manusia sebagai makhluk sosial. Jika ciri ini hilang bisa membuat manusia jadi sakit.

Di tengah krisis akibat COVID19 ini, hal yang membuat seorang khususnya saya bisa survive adalah harapan. Kita semua punya harapan yang sama bahwa wabah COVID19 akan berakhir cepat atau lambat. Saya berharap wabah ini usai menjelang puasa sehingga lebaran bisa normal. Meskipun banyak prediksi juga mengatakan wabah ini akan sampai lebaran. Entahlah. Saya telah mendaftar beberapa target yang harus saya jalankan saat social distancing ini. Meskipun sejujurnya menjalankannya berat sekali, tapi harus tanamkan terus. Hari-hari saya saat ini seolah di penjara. Bedanya saya tetap bisa berkomunikasi dan bekerja serta menikmati cemilan.

Di lain sisi saya terasa beruntung juga karena saya bekerja dengan digaji bulanan meskipun tidak cukup banyak untuk ukuran saya. Tapi itu jauh lebih mendingan di bandingkan banyak orang yang bekerja informal yang penghasilannya tidak menentu. Juga pastinya mereka tidak dapat bekerja dengan hanya membuka laptop dan hape.

Di masa karantina mandıri ini, saya men-set target untuk menyelesaikan majalah kampus juga menyelesaikan draft buku dengan teman-teman lab. Selain itu persiapan untuk studi doktor semoga bisa saya sentuh sehingga saat wabah COVID19 ini usai saya sudah siap semuanya. Semangat !

Radio Galau FM

Algoritma Youtube mengarahkan saya untuk menonton film tahun 2012 berjudul “Radio Galau FM”. Film yang menceritakan seorang remaja SMA jatuh cinta dua kali pada dua perempuan yang akhirnya putus dan galau. Film ini memang tidak cocok pada usia saya yang menjelang 30 tahun tapi bodoh amat ternyata selesai juga saya tonton. Beda banget latar belakang saya dengan Bara aktor utama di film tersebut secara saya selama masa SMP-SMA tidak pernah sekalipun sekelas dengan perempuan. Teman-teman saya semuanya laki. Masa kuliah pun tidak saya pakai untuk ambil experience berinteraksi dengan perempuan lebih jauh, tapi gausah disesali. Tapi ada satu kesamaan saya dan Bara, sama-sama suka nulis di mana pacar pertama ada laptop. Bedanya gantengan dia aja. Haha

Di usia menjelang kepala tiga ini, orang seangkatan saya sudah banyak yang sudah nikah. Banyak juga yang sudah punya buntut. Tapi saya masi hidup di kosan dengan melakukan segalanya sendiri. Jika ditanya bosen apa tidak, bosen pasti lah. Pengen rasanya punya temen ngobrol yang bisa diapa-apain lah ya. Tapi ternyata PDKT itu tidaklah mudah, selain butuh keberanian juga pastinya pengorbanan untuk keluar dari alam kita untuk waktu yang lama. Bagi sebagian orang ini gampang banget tapi tidak bagi orang yang gak punya experience yang cukup kayak saya. Usia saya sudah punya tanggung jawab yang cukup besar sehingga interaksi dengan orang menjadi lebih minimal.

Habis nonton film ini, saya jadi termotivasi untuk kembali mencoba lebih intens untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Biarpun tidak bisa disamakan dengan masa SMA, namun semangatnya tetap sama. Pantang menyerah, sama lunakin ego kita. Jika masa SMA tujuan dekatnya adalah pacaran, usia saya ya menikah. Tidak ada yang lain. Ya bosen juga ngelakuin hal-hal yang sering membuat diri menjadi destruktif. Perlu rasanya menjalin komunikasi dengan seseorang meskipun ini masa susah social distancing yang bisa memakan sampai 3 bulan ke depan. Sembari nyelesaiin kerjaan, tidak ada salahnya punya kerjaan lain yaitu menjalin silaturrahmi 🙂