100 Tahun

Seabad yang lalu, 3 Juli 1920, de Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng) didirikan oleh beberapa saudagar Belanda. Didirikannya kampus ini adalah untuk melayani kepentingan mereka di tanah jajahan, Hindia Belanda (selanjutnya setelah merdeka pada 1945 menjadi Indonesia). Perguruan Tinggi tersebut merupakan yang pertama ada di tanah air.

Selanjutnya TH setelah mengalami proses panjang kemerdekaan menjadi Institut Teknologi di Bandung pada 2 Maret 1959 yang kemudian dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Seratus tahun kemudian, tepat hari ini diperingati sejak berdirinya TH sebagai peringatan 100 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI).

100 tahun pastinya mengandung makna mendalam bagi ITB tersendiri khususnya bagi para pengembang sains dan teknologi di Indonesia. Kamis kemarin (2/7) saya turut serta berdiskusi dengan para pelaku sejarah seperti Pak Bambang Hidayat dari Astronomi dan Pak Bana G. Kartasasmita dari Matematika. Acara yang dipandu Pak Iwan dengan format webinar ini sangat menarik.

Di momen seabad ini, saya berbangga karena turutserta berkontribusi sedikit pada ITB seperti menjadi bagian dari tim untuk mengubah wajah website official dan juga sebagai bagian dari redaksi majalah ITB Magz yang kembali terbit sejak 2013 silam. Kontribusi ini mungkin akan terus saya ingat karena pas di hari bersejarah 100 tahun.

Saya coba akan menuliskan pandangan saya dalam bentuk teks panjang terkait 100 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia ini di salah satu blog saya medium. Laptop sudah di depan saya, saatnya mulai menulis…

COVID Semakin Dekat

Saya tidak menduga bahwa covid telah menyerang orang terdekat. Tadi pagi saya mendapatkan kabar dari Bapak jika kakak sepupu meninggal karena covid di satu daerah di jatim. Kakak sepupu ini sering main ke rumah, saya mengenal dekat sejak SD. Pastinya kaget karena sebelumnya tidak ada dari orang dari pihak keluarga kena apalagi sampai meninggal. Bapak mengatakan kalo di lingkungan kakak sepupu ini yang kena sudah cukup banyak, sudah ada 3 orang pasar yang meninggal. Pasar bisa jadi kluster baru yang mungkin akan didatangi petugas covid untuk di-rapid test.

Kejadian yang menimpa keluarga sendiri membuat saya harus berpikir dua kali untuk sekedar ngopi atau bertemu orang.

Saya yakin yang terkena covid sebenarnya bisa jadi berkali-kali lipat dari yang data yang disampaikan Pemerintah. Idealnya setelah kejadian ini orang-orang yang pernah kontak dengan korban harus dicek, petugas setempat melakukan tracing secara cepat. Tapi nyatanya itu belum terjadi, setidaknya itu yang bisa saya simpulkan dari obrolan dengan Bapak. Kita seolah tidak bisa mengandalkan Pemerintah atas pandemi ini, kita sendiri yang harus bertanggung jawab atas diri kita supaya tidak tertular.

Selain kita harus berhati-hati dengan mengikuti protokol, jangan lupa faktor “luck” dan tentunya pertolongan yang di atas yang membuat kita bisa terhindar dari covid.

28 Mei 2020

Tiga hari lagi akan memasuki bulan Juni, namun pandemi corona belum juga usai. Saya lihat geliat akademisi dari luar negeri yang giat mengadakan webinar. Saya kira di Indonesia juga sama. Saya yakin banyak orang yang terpaksa berdaptasi dengan kondisi ini untuk tetap bisa berkarya, bagaimanapun caranya. Berkarya adalah masalah mengalahkan rasa “malas” diri yang sumbernya bisa beranekaragam seperti karantina mandiri bisa menjadi salah satu penyebabnya. Mengalahkan rasa malas ini tidak bisa dengan dipaksa karena bisa berujung stres yang pastinya kontraproduktif, namun harus dihadirkan rasa senang. Rasa senang ini umumnya hadir dalam hobi namun tidak dengan pekerjaan meskipun sumbernya juga dari hobi. Hal ini dimungkinkan karena pekerjaan adalah terkait dengan target ; batasan waktu, standar, dan sebagainya yang itu tidak bisa terserah kita. Ada orang lain yang menentukan.

Saya kira seberapa besar tekanan, pekerjaan harus selesai. Meskipun harus dilalui stres dan puyeng karena itu adalah satu paket. Apalagi pekerjaan yang terkait dengan mikir, pastinya stresnya berlapis. Tinggal bagaimana kita mengelolanya. Untuk menyelesaikan pastinya harus difokuskan. Tanpa fokus, pekerjaan tidak akan usai yang membuat kita lambat naik level. Pekerjaan tidak untuk keren-kerenan tapi untuk diselesaikan. Setelah selesai pindah ke pekerjaan lain karena itulah hidup. Lalu kapan berhentinya ? Mati, saat raga terpisah dengan ruh. Tapi bagi orang yang beriman, ruh ini akan dimintai pertanggungjawaban di alam lain. Berarti pekerjaan akan tetap ada meskipun bentuknya sangat berbeda dengan yang ada di dunia.

Duh, tapi diri ini masuk kategori beriman tidak ya? Hati : “_____________”.

 

Jika Corona Berakhir

Sudah lebih dari 2 bulan rasanya saya tidak bebas bergerak dengan seringkali berdiam di kosan. Selama itu juga saya merasa terpenjara dengan ditemani hanya oleh internet. Pastinya Anda semua yang membaca tulisan saya ini juga mungkin merasakan hal yang sama. Tugas kita tak lebih adalah mampu bertahan di kondisi yang tidak mengenakkan ini. Ada yang mengatakan kondisi ini adalah “new normal”, di awal saya sepakat namun setelah saya jalani selama ini saya tidak sepenuhnya sepakat. Buktinya saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan saya (khususnya terkait penulisan/riset) sebagaimana kondisi pra-corona.

Pastinya pandemi ini akan berakhir entah dalam waktu cepat atau lambat. Saat nantinya kita tak lagi khawatir dan waswas dengan virus ini, kehidupan kita pastinya beda yaitu merupakan kombinasi antara kondisi antara pra-corona dan saat corona. Dua kondisi ini yang akan membentuk kehidupan kita pasca-corona. Saya tidak akan terlalu perduli hal ini karena itu adalah pekerjaan para psikolog, ekonom, praktisi kesehatan, dan sebagainya. Di tulisan ini saya coba berandai-andai pandemi corona berakhir dan di masa tersebut apa yang akan saya lakukan.

Setelah lebih dari 2 bulan saya melakukan self-quarantine, ada beberapa aktivitas/hal yang akan saya lakukan pasca-corona. Pertama, pulang kampung. Lebaran ini saya kemungkinan besar tidak pulang, saya rindu Ibuk, Bapak, ponakan, adik, kakak, dan keluarga besar. Saya akan pulang setidaknya 1 minggu full dengan tidak memperdulikan pekerjaan sama sekali. Kedua, liburan. Mungkin saya akan ke Jogja selama 3 hari dengan menikmati segala hal yang ada di sana termasuk bertemu saudara dan teman. Ketiga, menikah. Jika mempertimbangkan kondisi yang belum mapan dan berbagai variabel lain, saya tidak akan beranjak ke jenjang ini padahal saya sudah hampir kepala tiga di samping juga seringkali diingetin oleh Ibuk.

Saya kira tiga hal tersebut yang akan saya lakukan pasca-corona. Saya tidak mau menulis banyak target. Saya sengaja mencatat di blog diary ini karena seringkali saya terlupa dengan apa yang saya inginkan di suatu waktu. Kelupaan ini adalah bukti bahwa kita tidak pernah belajar dan bersyukur. Saya kira tiga hal ini sangat feasible bisa saya lakukan pasca-corona jika saya masi diberikan nikmat sehat oleh Allah swt.

Capaian Tertinggi

Tadi saya nonton film “RACE” yang menceritakan seorang pelari negro Amerika bernama Jesse Owens (diperankan oleh Stephan James) dari Ohio University yang mampu mengangkat Amerika dan kemanusiaan lewat diperolehnya rekor dan 4 medali emas cabang lari di Olimpiade Jerman masa Hitler. Film ini tak hanya menyinggung Jesse yang berjuang untuk menjadi pemenang di cabang olahraga lari, melainkan juga perjuangannya turutserta menghapuskan rasisme yang terjadi di Amerika juga Jerman melalui olahraga. Baginya olahraga tidak perlu dicampur dengan politik yang kala itu sangat kental terjadi.

Film ini menyadarkan saya secara pribadi bahwa capaian tertinggi seseorang itu harus diraih. Jika Jesse melalui lari, saya pastinya bidang lain. Tentunya berdasarkan passion dan ketelatenan. Sejak tingkat tiga sarjana, saya telah memulai menulis dan alhamdulillah konsisten sampai sekarang. Ada perubahan tentunya di kualitas tulisan saya, saya bisa menilainya. Maka, capaian terbesar saya dalam hidup ke depan adalah bagaimana pengetahuan saya akan bidang yang saya geluti sejak lama yaitu “teknologi dan inovasi” semakin kuat sehingga saya bisa bermanfaat bagi banyak orang. Pengetahuan ini saya dapat aktualisasikan melalui tulisan saya yang semakin tajam dan sesuai dengan konteks zaman.

Hal yang terdekat saya harus segera ambil doktor di bidang manajemen teknologi dan inovasi kemudian berkiprah menjadi akademisi sampai menjadi Guru Besar. Capaian karier ini selaras dengan kualitas tulisan saya yang dapat tembus di media ternama seperti Harvard Business Review dan MIT Technology Review. Saya kita itu capaian tertinggi saya dalam hidup yang semoga menginspirasi seperti halnya Jesse Owens.