Website Pribadi Off

Sejak 4 Juli 2020 lalu website pribadi saya, uruqulnadhif.com, off sementara waktu. Waktunya saya memperpanjang masa aktif domain untuk setahun ke depan. Karena saya berencana pindah provider, saya menunggu sekitar sebulan untuk proses migrasi ini berdasarkan arahan teman mahasiswa. Konsekuensinya website pribadi saya untuk sebulan ini tidak akan bisa diakses.

Ini kali pertama saya diamkan website pribadi saya. Tapi saya tetap bisa menulis di blog saya yang lain kayak wordpress ini dan medium. Meskipun ada perasaan sayang tidak bisa liat website utama tapi tidak masalah lah untuk ke depan lebih baik. Bergantinya provider harapannya membuat saya tidak bergantung pada teman yang biasanya mengurusi hal ini. Bertahun-tahun saya jika pengen perpanjang domain web harus kontak teman trus teman yang mengurusi ke pihak provider. Jika teman sulit dikontak misalkan, saya kan akhirnya repot.

Saya kira mekanisme baru dalam perpanjangan domain web ini selaras dengan semangat baru 100 tahun Pendidikan Teknik di Indonesia yang jatuh 3 Juli 2020 lalu. Harapannya nanti tampilan web saya pas sudah “ON” jadi baru, hehe

Lama Nggak Ngeblog

Lebih dari tiga bulan saya tidak potong rambut, sekarang dah mayan lebat. Niatnya pengen saya panjangin supaya ada yang diingat dari masa pandemi ini. Dulu ada niatan buat video lebaran di rantauan akibat pandemi dan video ultah ponakan saya, tapi nggak juga digarap karena ternyata habis lebaran load kerjaan jadi lebih besar. Memang tidak bisa dipungkiri habis lebaran, gairah bekerja hidup lagi. Saya lihat di kantor yang saat dan pra puasa cuma dikit sekali orang yang umumnya dari kantor saya (akibat ada kebijakan piket), kini saya lihat lebih banyak. Sholat jamaah di masjid yang dulunya satu shaf, kini bisa sampai 2 shaf lebih dikit.

Saya dah tiga hari saat pagi tidak ngopi, besok niatnya mau bangun pagi trus ngopi sembari nyelesaian tulisan draft buku. Saya pengen segera nyelesain buku biar agak tenang sebelum ngerjakan hal lain yang mungkin lebih besar. Saya juga pengen banget pulang minimal 1 minggu lah. Kangen Ibuk, Bapak, ponakan, dan sodara. Pulang juga sebagai ganti lebaran kemarin yang tidak bisa kemana-mana. Lihat kondisi pandemi yang belum reda kayak gini mungkin tidak bisa dalam waktu dekat, tapi saya berharap dalam 1-2 bulan ke depan bisa lah saya pulang.

Nanti jam 10 akan ada webinar dari University of Toronto. Ini webinar kedua yang saya dari kampus ini. Tema untuk malam ini Perguruan Tinggi di Era Pandemi. Kelihatannya menarik, saya nyantai dulu sembari dengerin lagu2 Dedi Kempot :p

28 Mei 2020

Tiga hari lagi akan memasuki bulan Juni, namun pandemi corona belum juga usai. Saya lihat geliat akademisi dari luar negeri yang giat mengadakan webinar. Saya kira di Indonesia juga sama. Saya yakin banyak orang yang terpaksa berdaptasi dengan kondisi ini untuk tetap bisa berkarya, bagaimanapun caranya. Berkarya adalah masalah mengalahkan rasa “malas” diri yang sumbernya bisa beranekaragam seperti karantina mandiri bisa menjadi salah satu penyebabnya. Mengalahkan rasa malas ini tidak bisa dengan dipaksa karena bisa berujung stres yang pastinya kontraproduktif, namun harus dihadirkan rasa senang. Rasa senang ini umumnya hadir dalam hobi namun tidak dengan pekerjaan meskipun sumbernya juga dari hobi. Hal ini dimungkinkan karena pekerjaan adalah terkait dengan target ; batasan waktu, standar, dan sebagainya yang itu tidak bisa terserah kita. Ada orang lain yang menentukan.

Saya kira seberapa besar tekanan, pekerjaan harus selesai. Meskipun harus dilalui stres dan puyeng karena itu adalah satu paket. Apalagi pekerjaan yang terkait dengan mikir, pastinya stresnya berlapis. Tinggal bagaimana kita mengelolanya. Untuk menyelesaikan pastinya harus difokuskan. Tanpa fokus, pekerjaan tidak akan usai yang membuat kita lambat naik level. Pekerjaan tidak untuk keren-kerenan tapi untuk diselesaikan. Setelah selesai pindah ke pekerjaan lain karena itulah hidup. Lalu kapan berhentinya ? Mati, saat raga terpisah dengan ruh. Tapi bagi orang yang beriman, ruh ini akan dimintai pertanggungjawaban di alam lain. Berarti pekerjaan akan tetap ada meskipun bentuknya sangat berbeda dengan yang ada di dunia.

Duh, tapi diri ini masuk kategori beriman tidak ya? Hati : “_____________”.

 

Harusnya Sudah di Rumah

Tiket kereta api saya terjadwal berangkat dari Bandung malam tadi sekitar jam 21.30 dan sampai di stasiun Lamongan sekitar jam 09.00. Tiket terpaksa saya batalkan karena corona dan lebaran tahun ini tidak mudik ke kampung halaman. Ini pertama kali saya lebaran tidak di rumah dengan orangtua dan semoga ke depan tidak terjadi peristiwa serupa seperti ini. Amiin.

Pastinya tidak bisa disamakan lebaran di rumah dan di perantauan. Beda feel-nya. Mungkin alangkah baiknya menganggap tahun ini tidak ada hari raya seperti kata Ibuk semalam di telpon. Tidak usah terlalu pantengin media sosial supaya tidak baper. Jujur sedih sekali tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Mungkin puncak sedih besok hari H lebaran. Tapi ya semoga aja kuat.

Tidak pulang bukan pilihan melainkan satu-satunya pilihan. Meskipun Pemerintah tidak tegas atasi migrasi penduduk dari kota ke desa karena corona ini, saya tetap ikuti instruksi Pemerintah untuk tidak mudik. Moga tahun depan kembali normal, saya bisa berlebaran dengan orangtua dan sodara tercinta di kampung halaman.

Jika Corona Berakhir

Sudah lebih dari 2 bulan rasanya saya tidak bebas bergerak dengan seringkali berdiam di kosan. Selama itu juga saya merasa terpenjara dengan ditemani hanya oleh internet. Pastinya Anda semua yang membaca tulisan saya ini juga mungkin merasakan hal yang sama. Tugas kita tak lebih adalah mampu bertahan di kondisi yang tidak mengenakkan ini. Ada yang mengatakan kondisi ini adalah “new normal”, di awal saya sepakat namun setelah saya jalani selama ini saya tidak sepenuhnya sepakat. Buktinya saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan saya (khususnya terkait penulisan/riset) sebagaimana kondisi pra-corona.

Pastinya pandemi ini akan berakhir entah dalam waktu cepat atau lambat. Saat nantinya kita tak lagi khawatir dan waswas dengan virus ini, kehidupan kita pastinya beda yaitu merupakan kombinasi antara kondisi antara pra-corona dan saat corona. Dua kondisi ini yang akan membentuk kehidupan kita pasca-corona. Saya tidak akan terlalu perduli hal ini karena itu adalah pekerjaan para psikolog, ekonom, praktisi kesehatan, dan sebagainya. Di tulisan ini saya coba berandai-andai pandemi corona berakhir dan di masa tersebut apa yang akan saya lakukan.

Setelah lebih dari 2 bulan saya melakukan self-quarantine, ada beberapa aktivitas/hal yang akan saya lakukan pasca-corona. Pertama, pulang kampung. Lebaran ini saya kemungkinan besar tidak pulang, saya rindu Ibuk, Bapak, ponakan, adik, kakak, dan keluarga besar. Saya akan pulang setidaknya 1 minggu full dengan tidak memperdulikan pekerjaan sama sekali. Kedua, liburan. Mungkin saya akan ke Jogja selama 3 hari dengan menikmati segala hal yang ada di sana termasuk bertemu saudara dan teman. Ketiga, menikah. Jika mempertimbangkan kondisi yang belum mapan dan berbagai variabel lain, saya tidak akan beranjak ke jenjang ini padahal saya sudah hampir kepala tiga di samping juga seringkali diingetin oleh Ibuk.

Saya kira tiga hal tersebut yang akan saya lakukan pasca-corona. Saya tidak mau menulis banyak target. Saya sengaja mencatat di blog diary ini karena seringkali saya terlupa dengan apa yang saya inginkan di suatu waktu. Kelupaan ini adalah bukti bahwa kita tidak pernah belajar dan bersyukur. Saya kira tiga hal ini sangat feasible bisa saya lakukan pasca-corona jika saya masi diberikan nikmat sehat oleh Allah swt.