Defining Happiness

I have just finished a book titled “Tasauf Modern” written by Hamka. The book I bought when I was an undergraduate student but it never been read well. This book talks about defining happiness on the perspective of Islam. Interestingly, Hamka cites views of many philosophers (including from west like Plato, Aristoteles, etc) in how he explains some points of happiness. One thing I remember that Hamka says that a happy one who always never feel poor and afraid. He is not pesimist and passive, but he is working hard. If he gets failure, he will work harder. But, if he get successful, he is not arrogant. In whatever condition, he is always humble.

Minggu Sore

Segelas vietnam drip dan sepotong brownis saya sudah habis, sementara seorang yang saya tunggu belum juga datang.

Satu video terkait Mark Zuckerberg di Youtube juga sudah habis saya tonton. Di sela menunggu, saya mencoba mengisi blog saya ini.

Besok sudah hari senin, artinya sudah kembali sibuk dengan pekerjaan. Besok kabarnya ada Dies ITB dengan beberapa orang yang akan mendapatkan penghargaan.

Di awal minggu ini saya sempat membuat podcast di salah satu platform, tinggal video Youtube-nya yang belum. Jumat kemarin, adobe Premier baru saja dibantu install oleh mahasiswa magnat di PC kantor. Rencananya minggu depan di sela-sela waktu kosong, saya bisa meulai belajar editing video.

Saya tidak cukup tartarik berbisnis media konvensional, apa yang saya kerjakan sepenuhnya adalar hobi dan idealisme. Ya, saya tidak tahu nanti dan masa depan. Pikiran saya sangat mungkin akan berubah.

O iya, tadi siang saya selesai menonton video 1.5 jam profil seorang Jeff Bezo di Youtube. Setelah menonton video tersebut saya dapat simpulkan bahwa Jeff adalah seorang jenius di mana Amazon sebagai platform e-commerce adalah salah satunya, dia punya lini bisnis lain mulai dari internet backbond sampai infrastruktur untuk misi luar angkasa.

Jika saya dosen, saya sangat tertarik untuk mengajarkan bisnis-bisnis strategis superti yang dilakukan Jeff dan Mark kepada mahasiswa. Saya tidak tertarik untuk mengajar industri kreatif yang umum diajarkan di sekolah bisnis di Indonesia saat ini.

 

Korupsi karena Gaji Kecil

Berita viralnya gaji Bupati Banjarnegara yang kurang dari 6 juta membuat saya berpendapat bahwa bisa jadi itu bisa menjadi pintu masuk (entry point) seorang pejabat daerah untuk korupsi. Jumlah tersebut yang setiap bulannya masuk ke rekening kepala daerah tersebut. Memang belum ditambah uang aspirasi sejumlah 1 juta per hari berdasarkan pengakuan dari Bupati tersebut. Uang sekitar 30 juta dalam sebulan peruntukannya memang bukan untuk pribadi melainkan untuk kunjungan ke warga. Jika dipakai pribadi akan menjadi besar take home pay yang didapatkan Bupati tersebut, namun jika Ia menggunakannya untuk peruntukan semestinya (aspirasi) jadi kecil gaji yang didapatkannya dalam sebulan.

Ada benarnya yang disampaikan Bupati Budhi Sarwono ini bahwa kecilnya gaji membuat banyak Bupati membenarkan korupsi. Dalam Pilkada umumnya dana yang dikeluarkan sangat besar membuat kepala daerah jika terpilih memikirkan bagaimana caranya modal ini balik. Pemikiran ini manusiawi. Tinggal bagaimana caranya mengembalikan modal ini apakah dengan jalan halal melalui gaji yang didapatkannya dalam sebulan atau dengan jalan haram melalui penggunaan dana tidak sebagaimana peruntukannya atau memainkan projek Pemda yang jumlahnya ratusan milyar.

Saya tidak sepakat menjadi kepala daerah adalah pengabdian makanya membicakan gaji menjadi tidak elok. Meskipun kepala daerah ini kaya raya sebelum dia menjabat, tetap dia harus digaji cukup. Setidaknya dalam urusan pembangunan daerah uang yang didapatkan dari Pemerintah lebih dari cukup. Gaji yang cukup ini definisinya sesuai dengan beban dan tanggung jawab yang diemban maka jumlahnya tidak bisa disamaratakan untuk semua daerah. Gaji yang cukup ini adalah justifikasi bagi KPK untuk menangkap Bupati yang korupsi.

Jangan-jangan pelemahan KPK melalui UU KPK yang baru adalah pembenaran kepada Kepala Daerah untuk bertindak korupsi mengingat gaji mereka yang kecil sedangkan biaya mereka saat Pilkada dan juga pajak Partai terlampaui besar ? Tak hanya kepala Daerah, DPRD juga demikian.

Jika yang dikatakan Bupati Banjarnegara ini adalah fakta, maka penegakan korupsi tidak cukup hanya penguatan KPK namun juga penaikan gaji Kepala Daerah atau pejabat setingkatnya. Tapi apakah Pemerintah pusat mau melakukan ini ? Yang jelas KPK dengan UU baru yang mengaturnya memperlemah wewenang KPK jadi secara tidak langsung membolehkan Kepala Daerah untuk ‘bermain’ dengan sumber dana subhat dan haram.

Saya Bersama Mahasiswa

Hari ini dikabarkan telah dilangsungkan demonstrasi besar di berbagai kota di Indonesia seperti di Yogyakarta dengan Gejayan Memanggil. Demonstrasi yang dimotori mahasiswa ini dipicu oleh putusan DPR terkait beberapa UU yang dinilai menarik mundur spirit reformasi seperti RUU KPK dan RKUHP. Ditambah lagi dengan beberapa persoalan yang menambah panas situasi seperti kasus Papua yang belum juga meredam dan kebakaran hutan di Kalimantan. Kondisi ini membuat mahasiswa dan beberapa akademisi dan aktivis geram yang diwujudkan dengan turun ke jalan menuntut DPR mencabut putusannya.

Ketika membaca kabar atas RUU KPK dari berbagai sumber, saya menyimpulkan bahwa negeri ini tengah berada di cengkeraman elite politik dengan aganda pragmatisnya. Elite ini entah dari unsur eksekutif maupun legislatif secara bulat sepakat untuk melemahkan KPK disusul dengan UU lain. Keberadaan KPK adalah simbol kekuatan rakyat di tengah kuatnya ketidakpercayaan pada lembaga negara lain yang dipandang korup. Maka pelemahan KPK berarti pelemahan pada kekuatan rakyat. KPK memang belum bisa dikatakan berhasil memberantas korupsi, namun itu bukan berarti perlu dipreteli kewenanangannya, justru harus dikuatkan.

**

Kepada seluruh mahasiswa yang turut turun ke jalan saya ucapkan terima kasih karena mewakili banyak rakyat termasuk saya yang kecewa dengan keputusan DPR dan Pemerintah terkait beberapa hal krusial akhir-akhir ini seperi RUU KPK. Maju terus dan selamat berjuang …

Kasus KPK dalam Pandangan Saya

Berita terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengemuka. Jika dulu ada kasus Cicak vs Buaya kini masalahnya jauh lebih besar dan kompleks. Kompleksitas dapat kita lihat dari dua hal yakni sisi perangkat hukum yakni UU yg mengatur KPK direvisi dan terpilihnya mayor jendaral kepolisian jadi Ketua KPK. Dua hal ini sama-sama tdk bisa diterima oleh aktivis pegiat korupsi.

KPK di awal pembetukannya diniatkan untuk menjadi lembaga independen yg tupoksinya pemberantasan korupsi yang mencakup penangkapan koruptor dan pencegahan korupsi. Bidikan KPK tak lain adalah para pejabat publik di berbagai lembaga negara/Pemerintah. KPK pastinya miliki daftar calon koruptor tinggal kapan dia mau tetapkan jadi tersangka tunggu barang bukti yang cukup. Pemilihan mana yang akan ditangkap pastinya ada kriterianya. Terkait hal ini saya belum tahu. Biarpun KPK independen namun dalam implementasinya bisa jadi bias ke kekuasaan karena atasan KPK adalah kepala negara yakni Presiden. Buktinya sampai saat ini, KPK belum pernah tetapkan mantan Presiden/Wapres jadi tersangka meskipun ada dari mereka terlibat dalam beberapa kasus besar.

Nah, jika atasan KPK langsung adalah Presiden, namun pemilihan pimpinan KPK ada pada wewenang DPR setelah calon-calonnya dipilih oleh Presiden melalui panitia seleksi khusus. Ditambah lagi UU yang mengatur KPK disahkan oleh DPR. Di sinilah akar masalahnya karena orang DPR pasti bisa bermain, juga pihak eksekutif yaitu sekeliling Presiden. Mereka semua adalah orang politik yang butuh bersih dari kasus korupsi. Pelumpuhan KPK adalah cara paling pas agar mereka selamat.

Lantas sikap saya bagaimana terhadap kasus KPK ini? Saya sependapat dengan para pegiat antikorupsi. KPK saat ini tengah dilemahkan. Sebagai seorang yang waras pastinya penolakan atas pelemahan ini adalah cara yang benar meskipun tantangannya juga besar. Negeri ini disadari/tidak faktanya dikuasai oleh elite. Film Gundala sedikit banyak telah menggambarkan. Tugas kita yang peduli akan kebenaran dan kebaikan adalah menyuarakan dan itu bentuk perlawanan.

Mengutup Nyai Ontosoroh kepada Minke :

“Kita tidak kalah Nyo, setidaknya kita pernah berjuang”

Remember My Senior

I accidentally checked my senior’s facebook timeline several minutes ago. He passed away in 2010 on the date of my birthday. He was so friendly. I was home-mate only one year in the first year of my study in ITB. He introduced to me about Kamen Rider by giving many collections of video. He always thought simple about many things even actually they are complicated.

I scrolled many wishes and messages to him. I really believe that he was a good man with a lot of contribution. Maybe how fast he died means that God loves him.

As a living human, I try to be a good man like him even it’s not easy. Life is about how beneficial we are, how we give to people. Have a nice life in there Kak !

My opinion

This morning, a national newspaper whose customer majority is eastern Indonesia, Jawa Pos, published my writing with title ” Shenzhen dan Supremasi Teknologi Tiongkok”. It is the first time for me in publishing an opinion that I have high concern about it in research. Hopefully after this I can publish another article and also scientific journal related about that topic.