Harapan (Hari-6)

Adik yang sedianya pulang dari Jakarta ke kampung halaman tanggal 31 Maret ini, dipercepat malam ini jam 20.30 WIB. Saya berharap dan berdoa semoga adik saya tidak menjadi carrier untuk COVID19 sehingga tidak menularkan ke orang rumah. Saya sendiri kepikiran jika pada akhirnya Work from Home (WfH) kayak gini terus sampai bulan depan bahkan lebih, mungkin saya akan pulang saat menjelang puasa. Memang lebih baik berdiam saja di kosan, namun melihat kondisi kosan yang kini tinggal dua orang saja dan mungkin nantinya tinggal saya akan dapat membuat psikologis saya bisa keganggu. Interaksi dengan orang lain merupakan ciri manusia sebagai makhluk sosial. Jika ciri ini hilang bisa membuat manusia jadi sakit.

Di tengah krisis akibat COVID19 ini, hal yang membuat seorang khususnya saya bisa survive adalah harapan. Kita semua punya harapan yang sama bahwa wabah COVID19 akan berakhir cepat atau lambat. Saya berharap wabah ini usai menjelang puasa sehingga lebaran bisa normal. Meskipun banyak prediksi juga mengatakan wabah ini akan sampai lebaran. Entahlah. Saya telah mendaftar beberapa target yang harus saya jalankan saat social distancing ini. Meskipun sejujurnya menjalankannya berat sekali, tapi harus tanamkan terus. Hari-hari saya saat ini seolah di penjara. Bedanya saya tetap bisa berkomunikasi dan bekerja serta menikmati cemilan.

Di lain sisi saya terasa beruntung juga karena saya bekerja dengan digaji bulanan meskipun tidak cukup banyak untuk ukuran saya. Tapi itu jauh lebih mendingan di bandingkan banyak orang yang bekerja informal yang penghasilannya tidak menentu. Juga pastinya mereka tidak dapat bekerja dengan hanya membuka laptop dan hape.

Di masa karantina mandıri ini, saya men-set target untuk menyelesaikan majalah kampus juga menyelesaikan draft buku dengan teman-teman lab. Selain itu persiapan untuk studi doktor semoga bisa saya sentuh sehingga saat wabah COVID19 ini usai saya sudah siap semuanya. Semangat !

Mandi (Hari-5)

Seharian kemarin saya tidak mandi. Setelah bangun kesiangan sekali, saya mandi. Cukup segar badan saya. Setelah mandi, saya coba pemanasan bentar dan coba menikmati matahari pagi yang sudah menjelang siang. Bangun kesiangan itu tidak enak sekali, kemalasan seolah dirapel jadi super males.

Hari ini sebagaimana kemarin saya akan tetap memimpin rapat via WhatsApp membahas pembaruan daftar informasi. Selain itu, kembali menyelesaikan draft majalah yang semoga hari Ini tinggal liputan khususnya saja. Saya pengen beralih ke pekerjaan lain untuk persiapan doktor saya.

Sudah di minggu-minggu akhir, duit semakin menipis. Ada hikmahnya tinggal dan kerja di kosan seharian. Mungkin minggu ini sudah jadi new normal bagi saya yang seminggu kemarin betapa stresnya saya.

Target saya malam ini saya tidur tepat waktu dan besok pagi saya dapat bangun sebelum matahari meninggi. Semangat !

Internet

Saya tidak bisa bayangkan berhari-hari di kosan saja dan tidak ada internet. Seminggu awal sangat berat, mungkin minggu kedua sudah menjadi biasa. Iya, saya diuntungkan dengan adanya internet yang relatif kenceng. Di masa yang sangat malas ini, saya tetep bisa menikmati hiburan medsos seperti Youtube. Tentunya pastinya tetap bisa nyicil kerjaan. Kalo tidak ada WiFi bisa dipastikan saya akan habis entah berapa paketan data.

Saya siang tadi pas makan membaca kabar dari WhatsApp jika bsok tidak ada jadwal piket. Jadinya senin sampai Rabu dipastikan saya akan di kosan saja. Tadi saya set empat target moga bisa selesai sampai Rabu.

Saya baca udah 450 orang positif corona di Indonesia. Saya pun mengikuti anjuran Pemerintah untuk tidak keluar kecuali untuk hal urgen. Iya, tadi keluar cuma untuk makan siang saja.

Distraksi kerja di rumah sejujurnya banyak sekali. Mungkin nanti akan jadi new normal bagi saya. Enjoy aja.

 

Kerja di Rumah (Hari-2)

Hari ini merupakan hari kedua saya kerja di tengah kebijakan social distancing yang implikasinya kerja shift. Kemarin saya masuk kantor namun terbatas dari jam 09.00-15.00 WIB saja dan hari ini saya kerja di rumah. Jika ditanya produktif mana di kantor atau di kosan jawaban saya di kantor pastinya. Saya masih belajar menyesuaikan. Banyak distraksi yang saya dapatkan.

Barusan saya buat kopi di mana biasanya pagi. Tadi pagi saya tidak sarapan, baru tadi saya ke Bu Tatang sama temen kosan. Kenyang banget. O Iya, Bu Tatang kena dampak COVID-19 ini. Biasanya habis zuhur sudah habis, namun tadi menu masih cukup banyak. Kata beliau, mahasiswa kemungkinan banyak yang pulang kampung.

Sekian dulu bahasan kita, habis ini saya mau kembali kerja. Mau nyelesaikan draft majalah dan menjawab WhatsApp. Disambung besok lagi, moga saya inget terus untuk update tulisan di sini.

20-02-2020

Hari ini bertepatan dengan tanggal yang baik 20-02-2020. Kebetulan saya tidak masuk kantor, seharian di kosan saya. Malam ini saya berencana bertemu teman saya yang domisili Jakarta kebetulan ada dinas di Bandung.

Beberapa hari terakhir saya merasa tidak enjoy dengan aktivitas yang setiap hari saya jalankan. Bisa dikatakan hari ini adalah puncaknya, namun yang menarik tadi siang pas saya makan siang di Ibu kosan. Ibu kosan bilang ke saya, “Kemarin saya mimpi kamu bawa ikan besar dan diberikan ke saya, itu pertanda kamu akan mendapatkan rizki besar”, saya membalas “Amiin Bu”.

Hidup di tengah rutinitas sangat membosankan sekali, saya seringkali berfikir untuk rehat sejenak selama satu minggu dari aktivitas ini untuk sekedar menikmati hidup. Saya sampai sore tadi bisa dikatakan gabut tapi untungnya saya pada dasarnya orang yang gak bisa benar-benar gabut. Whatsapp saya masih “ON”, saya tetap menjawab hal-hal terkait pekerjaan.

Untungnya tadi sore saya menonton sampai habis film “LION”. Kisah anak hilang India yang tumbuh diadopsi oleh sepasang orangtua baik Australia. Setelah 25 tahun berpisah, anak yang bernama Saroo ini setelah perjuangan keras akhirnya menemukan Ibu biologisnya. Momen pertemuan ini membuat saya menangis, padahal sudah beberapa kali saya menonton film ini.

Ya, 20-02-2020 mengajarkan saya setidaknya beberapa hal berikut : 1) kejenuhan/stres harus diyakini sebagai sebuah fase kita akan naik kelas di kehidupan ini, 2) stay humble jalani hidup ini dan jadilah pribadi yang tetap punya mimpi besar namun tetap down to earth, dan 3) love your self dengan melakukan hal-hal yang membuatmu semangat dan positif memandang dan menjalani hidup.

Good luck to be kind man 🙂

New Look

There are three laptops in my room right now. One of them is notebook. This time I switch on all of them. The notebook is connected with TV showing me Bloomberg news online. I use Lenovo for writing this post and Macbook for reading papers related to my next research. I have planning to redesign my room then I can take a vlog here. There is a camera that I rarely use it.

2020 is several days remaining in front, I hope that the year will bring us some happiness.

DSCF5876

Jogja yang Sebentar

Akhir lalu saya ikut rombongan dari Direktorat Administrasi Umum ITB untuk liburan di Jogja. Berangkat dari Bandung jumat maghrib dan sampai jogja jam 3 kurang sabtu dini hari, lalu dijemput bus menuju Gunung Kidul dengan destinasi pantai Sadranan, Pinus Pengger (Bantul), Tebing Breksi, lalu ke hotel di daerah Jogokariyan. Besoknya beli oleh-oleh di pusat kota, ke Borobudur, lava tour Merapi, dan malioboro. Di malioboro hanya sekitar dua jam saja itupun dipotong dengan saya buang hajat dan sholat sekitar setengah jam. Tapi lumayan bisa ke kopi jos  biarpun aku pesennya susu jahe (secara level kopi saya gak sachet lagi, heuheu).

Liburan ini ada yang terlewat. Minggu pagi saya skip subuhan di Jogokariyan (masjid ini hits sekali) dan jogging setelah itu. Saya juga skip ke sodara karena berhubung waktu kosong yang terbatas. Moga setelah beres kerjaaan berat (ada beberapa bulan ini), bisa ke Jogja lagi. Aku penasaran ama kopi klatak sama anak sodara yang berusia 5 bulan. Moga kesampean akhir bulan ini atau bulan depan 🙂