Motivasi (Hari yang Kesekian)

Setiap hari hanya menyaksikan kasur, laptop, dan hape. Ini sudah memasuki minggu ketiga. Saya sudah merasa terbiasa dengan kebiasaan baru sejak karantina mandiri ini. Di bandingkan dengan minggu pertama yang stresnya bukan main, saya bersyukur bisa tetap hidup dengan kadar kestresan yang mungkin masih di bawah garis kritis. Meksipun uang ada biarpun tidak cukup banyak, namun itu tidak dapat membeli rasa syukur akan hidup. Rasa ini coba saya bangun melalui target pribadi yang dengannya saya merasa masih dibutuhkan oleh hidup.

Ada tiga target saya yaitu menyelesaikan draft majalah kampus, draft buku dengan kolega lab, dan proposal doktoral. Ketiganya ini yang selalu akan menjadi pekerjaan saya setiap hari, disamping rutinitas pekerjaan rutin lain. Saya tidak tahu korona akan berakhir kapan, atau bisa jadi tidak akan berhenti. Setidaknya melalui pekerjaan ini saya merasa punya andil dalam hidup. Majalah memuat misi untuk membumikan sainstek sehingga masyarakat semakin aware, sementara buku akan membuat orang tahu bagaimana transfer teknologi penting untuk sebuah negara. Proposal doktor penting bagi saya untuk melanjutkan studi sehingga saya bisa terus meningkatkan kualitas tulisan saya ke depan.

Target lain yang lebih tidak cukup menguras pikiran yaitu mengaktifkan kanal media saya khususnya Youtube dan podcast. Bahan-bahan sudah ada di otak saya. Saya juga punya tripod, kamera, recorder, dan clip-on. Tinggal atur waktu saya. Melalui cara ini, saya tetap turut berlomba-lomba dalam hal kebaikan melalui menyebarluaskan ilmu pengetahuan.

Saya juga terus menanamkan harapan saat pulang kampung pasca korona nanti, saya telah menyelesaikan pekerjaan penting saya tadi. Di samping membawa berita positif ke Ibu jika saya sudah punya pasangan yang siap untuk diajak berumahtangga segera.

Harapan (Hari-6)

Adik yang sedianya pulang dari Jakarta ke kampung halaman tanggal 31 Maret ini, dipercepat malam ini jam 20.30 WIB. Saya berharap dan berdoa semoga adik saya tidak menjadi carrier untuk COVID19 sehingga tidak menularkan ke orang rumah. Saya sendiri kepikiran jika pada akhirnya Work from Home (WfH) kayak gini terus sampai bulan depan bahkan lebih, mungkin saya akan pulang saat menjelang puasa. Memang lebih baik berdiam saja di kosan, namun melihat kondisi kosan yang kini tinggal dua orang saja dan mungkin nantinya tinggal saya akan dapat membuat psikologis saya bisa keganggu. Interaksi dengan orang lain merupakan ciri manusia sebagai makhluk sosial. Jika ciri ini hilang bisa membuat manusia jadi sakit.

Di tengah krisis akibat COVID19 ini, hal yang membuat seorang khususnya saya bisa survive adalah harapan. Kita semua punya harapan yang sama bahwa wabah COVID19 akan berakhir cepat atau lambat. Saya berharap wabah ini usai menjelang puasa sehingga lebaran bisa normal. Meskipun banyak prediksi juga mengatakan wabah ini akan sampai lebaran. Entahlah. Saya telah mendaftar beberapa target yang harus saya jalankan saat social distancing ini. Meskipun sejujurnya menjalankannya berat sekali, tapi harus tanamkan terus. Hari-hari saya saat ini seolah di penjara. Bedanya saya tetap bisa berkomunikasi dan bekerja serta menikmati cemilan.

Di lain sisi saya terasa beruntung juga karena saya bekerja dengan digaji bulanan meskipun tidak cukup banyak untuk ukuran saya. Tapi itu jauh lebih mendingan di bandingkan banyak orang yang bekerja informal yang penghasilannya tidak menentu. Juga pastinya mereka tidak dapat bekerja dengan hanya membuka laptop dan hape.

Di masa karantina mandıri ini, saya men-set target untuk menyelesaikan majalah kampus juga menyelesaikan draft buku dengan teman-teman lab. Selain itu persiapan untuk studi doktor semoga bisa saya sentuh sehingga saat wabah COVID19 ini usai saya sudah siap semuanya. Semangat !

Radio Galau FM

Algoritma Youtube mengarahkan saya untuk menonton film tahun 2012 berjudul “Radio Galau FM”. Film yang menceritakan seorang remaja SMA jatuh cinta dua kali pada dua perempuan yang akhirnya putus dan galau. Film ini memang tidak cocok pada usia saya yang menjelang 30 tahun tapi bodoh amat ternyata selesai juga saya tonton. Beda banget latar belakang saya dengan Bara aktor utama di film tersebut secara saya selama masa SMP-SMA tidak pernah sekalipun sekelas dengan perempuan. Teman-teman saya semuanya laki. Masa kuliah pun tidak saya pakai untuk ambil experience berinteraksi dengan perempuan lebih jauh, tapi gausah disesali. Tapi ada satu kesamaan saya dan Bara, sama-sama suka nulis di mana pacar pertama ada laptop. Bedanya gantengan dia aja. Haha

Di usia menjelang kepala tiga ini, orang seangkatan saya sudah banyak yang sudah nikah. Banyak juga yang sudah punya buntut. Tapi saya masi hidup di kosan dengan melakukan segalanya sendiri. Jika ditanya bosen apa tidak, bosen pasti lah. Pengen rasanya punya temen ngobrol yang bisa diapa-apain lah ya. Tapi ternyata PDKT itu tidaklah mudah, selain butuh keberanian juga pastinya pengorbanan untuk keluar dari alam kita untuk waktu yang lama. Bagi sebagian orang ini gampang banget tapi tidak bagi orang yang gak punya experience yang cukup kayak saya. Usia saya sudah punya tanggung jawab yang cukup besar sehingga interaksi dengan orang menjadi lebih minimal.

Habis nonton film ini, saya jadi termotivasi untuk kembali mencoba lebih intens untuk menjalin hubungan dengan seseorang. Biarpun tidak bisa disamakan dengan masa SMA, namun semangatnya tetap sama. Pantang menyerah, sama lunakin ego kita. Jika masa SMA tujuan dekatnya adalah pacaran, usia saya ya menikah. Tidak ada yang lain. Ya bosen juga ngelakuin hal-hal yang sering membuat diri menjadi destruktif. Perlu rasanya menjalin komunikasi dengan seseorang meskipun ini masa susah social distancing yang bisa memakan sampai 3 bulan ke depan. Sembari nyelesaiin kerjaan, tidak ada salahnya punya kerjaan lain yaitu menjalin silaturrahmi 🙂

Mandi (Hari-5)

Seharian kemarin saya tidak mandi. Setelah bangun kesiangan sekali, saya mandi. Cukup segar badan saya. Setelah mandi, saya coba pemanasan bentar dan coba menikmati matahari pagi yang sudah menjelang siang. Bangun kesiangan itu tidak enak sekali, kemalasan seolah dirapel jadi super males.

Hari ini sebagaimana kemarin saya akan tetap memimpin rapat via WhatsApp membahas pembaruan daftar informasi. Selain itu, kembali menyelesaikan draft majalah yang semoga hari Ini tinggal liputan khususnya saja. Saya pengen beralih ke pekerjaan lain untuk persiapan doktor saya.

Sudah di minggu-minggu akhir, duit semakin menipis. Ada hikmahnya tinggal dan kerja di kosan seharian. Mungkin minggu ini sudah jadi new normal bagi saya yang seminggu kemarin betapa stresnya saya.

Target saya malam ini saya tidur tepat waktu dan besok pagi saya dapat bangun sebelum matahari meninggi. Semangat !

Kerja di Kosan Lagi (Hari-4)

Sebenarnya hari ini adalah jadwal piket saya di kantor, namun kemarin ada pemberitahuan kalo tidak ada piket. Kantor bakalan disemprot sama cairan disinfektan. Tadi saya bungun kesiangan, entah susah banget untuk bisa bangun seolah gak ada motivasi sama sekali. Ada teh sisa semalem, mayan bisa saya sruput. Saya tidak berani minum saat saya belum sarapan.

Saya pengennya hari ini distraksi kepada saya tidak sebanyak kemarin. Saya pengen pekerjaan saya ada hasilnya yang membuat saya tidak ngaret tidur malam seperti semalam yang baru jam 2 baru beranjak tidur. Penggunaan gadget baik hape atau tablet harus diatur.

Intinya hari ini lebih produktif, semoga !

Internet

Saya tidak bisa bayangkan berhari-hari di kosan saja dan tidak ada internet. Seminggu awal sangat berat, mungkin minggu kedua sudah menjadi biasa. Iya, saya diuntungkan dengan adanya internet yang relatif kenceng. Di masa yang sangat malas ini, saya tetep bisa menikmati hiburan medsos seperti Youtube. Tentunya pastinya tetap bisa nyicil kerjaan. Kalo tidak ada WiFi bisa dipastikan saya akan habis entah berapa paketan data.

Saya siang tadi pas makan membaca kabar dari WhatsApp jika bsok tidak ada jadwal piket. Jadinya senin sampai Rabu dipastikan saya akan di kosan saja. Tadi saya set empat target moga bisa selesai sampai Rabu.

Saya baca udah 450 orang positif corona di Indonesia. Saya pun mengikuti anjuran Pemerintah untuk tidak keluar kecuali untuk hal urgen. Iya, tadi keluar cuma untuk makan siang saja.

Distraksi kerja di rumah sejujurnya banyak sekali. Mungkin nanti akan jadi new normal bagi saya. Enjoy aja.

 

Sabtu Kedua Berdiam di Kosan

Jika sabtu minggu lalu paginya sempat ke kampus untuk tes TPA, namun tidak dengan hari ini. Seharian di kosan. Bangun kesiangan, buka mata bentar kemudian tidur lagi. Siang hari pas perlu makan baru keluar kosan, itu pun tak lama. Kegiatan selanjutnya main laptop sampai saat ini. Jedah hanya ke kamar mandi untuk mandi dan juga ambil wudhu.

Tak lama saya akhirnya menyelesaikan menonton film Parasite, film yang mendapatkan penghargaan Oscar tahun ini. Film berdurasi dua jam menurut penilaian saya yang bukan kritikus film bagus sekali. Parameternya sederhana, saya tidak bisa tebak endingnya. Meskipun di kehidupan nyata potret yang digambarkan kemungkinan besar tidak akan pernah ada. Satu keluarga sukses sebagai penipu cerdik dengan mengelabuhi satu keluarga yang amat terdidik.

Dari film ini saya mencoba memahami bahwa kehidupan di Korea Selatan yang menjadi potret cerita ini mirip dengan apa yang ada di masyarakat Indonesia. Bahwa menjadi orang kaya apalagi dengan cara instan adalah hal yang amat diidamkan oleh banyak orang. Meskipun dengan cara menipu, yang penting kehidupan yang diidam-idamkan ini dapat diwujudkan. Bodoh amat itu merugikan orang lain.

Dari film ini, pelajaran yang dapat diambil adalah menjadi orang baik itu tidak cukup, Anda perlu memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup sehingga kebaikan Anda tidak membahayakan diri Anda sendiri dan juga orang lain.