Nulis Buku Bagus

Umur 20an menjelang 30an entah ini berlaku general buat semua orang atau spesifik hanya aku doang dihadapkan pada tantangan punya mimpi yang banyak. Pengen jadi A,B,C, D, dst. Satu mimpi yang bagi kalian tidak mungkin tapi ternyata masih dalam daftar cita-cita saya adalah jadi penulis novel best-seller lalu jadi sutradara film. Ini kedengarannya aneh, tapi entah kok itu jadi salah satu mimpiku di masa depan. Tapi pastinya dari sekian mimpi, satu yang jelas telah dan sedang kurintis sejak lama adalah jadi penulis yang baik. Meskipun waktu kecil tidak pernah terbayang jadi penulis, namun sejak kuliah tingkat tiga saya telah memulainya dan alhamdulillah konsisten sampai sekarang. Sudah tiga artikel opini saya dimuat di media cetak nasional dan tiga buku serius telah dipublikasi oleh dua penerbit yang berbeda. Saya juga ternyata masih aktif nge-blog sampai sekarang di berbagai blog/platform yang saya punya. Entah mengapa, nulis bagi saya asik aja. Biarpun terkadang berat dan terpaksa, tapi kok juga kelar juga tuh tulisan.

Dua minggu lalu saya dikenalkan buku berjudul The Four : The Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook, and Google edisi bahasa Indonesia oleh mas Jawot dari Los Tjihapit. Kurang dari seminggu ditengah kesibukan saya buku itu selesai saya baca. Ternyata buku itu ditulis oleh salah seorang profesor bisnis bernama Scott Gallowey. Saya langsung kepoin orang tersebut dan ternyata menarik latarbelakangnya. Dia juga pelaku beberapa startup dan juga konsultan berbagai perusahaan besar. Sementara itu, beberapa hari yang lalu saya mulai baca buku tulisan Dan Breznitz dari University of Toronto berjudul Innovation and the State, langsung dalam hati saya katakan, “Ini saya banget, moga saya bisa S3 dibimbing oleh orang ini”. Saya pengen memfokuskan penelitian dengan topik yang sama dengan Breznitz. FYI, orang ini juga punya startup disamping jadi akademisi.

Nah, dari dua orang role-model dan juga capaian saya di dunia kepenulisan sampai sekarang, suatu saat saya pengen nulis buku dengan gaya Scott Gallowey dengan topik seperti Breznitz. Pastinya yang paling penting, gaya penulisan saya tidak terlalu akademis sehingga orang awam pun bisa baca. Moga cita-cita saya ini bisa terwujud di masa depan, amiin.

Pak Jorga Ibrahim, In Memoriam

Jumat siang (10/1/2020) saya ke kantor siang, kemudian menyalakan komputer dan mencek linimasa di Facebook. Saya melihat status Pak Dede Enan, pegawai senior FMIPA, yang mengatakan bahwa Pak Jorga Ibrahim meninggal. Saya pun kemudian mencari status lama saya di tahun 2016 dan kemudian me-repost-nya di timeline saya. Isi status ini adalah kenangan akan buku berjudul “People of the first city” yang diberikan beliau pasca saya wawancara sekitar 2 jam pada hari jumat 2016 silam. Setelah Ashar selanjutnya saya turutserta men-sholat-kan jenazah beliau di Salman.

Pak Jorga cukup susah untuk ditemui. Pertama kali saya bertemu beliau saat S1 ketika diberitahu Sandi PSIK kalo ada seorang dosen senior (pensiunan) yang “aneh” di ITB. Secara sendiri kemudian saya ke kantor Pak Jorga secara langsung di gedung Astronomi lama (sekarang dipakai TI). Teringat satu pandangan beliau yang mendukung Indonesia sebagai negara federal dengan berbagai alasan. Tidak ingat berapa persisnya saya wawancara beliau saat itu. Sampai ketika saya sedang menjalankan tesis S2, saya temui lagi beliau untuk diwawancara.

Ketika ditemui untuk kali kedua ini, Pak Jorga di awal menjelaskan penelitiannya pada saya. Beliau sempat menjelasakan di papan tulis lalu di kertas A4 di mejanya. Beliau menerangkan demikian karena tahu kalo latarbelakang saya matematika. Namun akhirnya setelah itu (ini yang paling lama), beliau jelaskan pandangan-pandangan sosialnya terkait isu politik, pengalaman, dan sebagainya. Dari sini saya baru tahu bahwa beliau memiliki pengalaman yang amat kaya diseputar ilmu pengetahuan khususnya kosmologi. Beliau pernah diangkat sebagai Rektor Institut Teknologi Indonesia, juga pimpinan di ITB. Juga merupakan teman dekat saat di Perancis dengan Daoed Joesoef.

Setelah wawancara ini, seringkali saya berpapasan dengan beliau di jalan baik di daerah Dayangsumbi, parkiran SR, komplek Salman, Gedung CAS, dan terakhir Bumi Medika Ganesha (BMG). Dua pertemuan terakhir dengan beliau di Dayangsumbi saat saya mau rapat di Cafe Halaman, kurang lebih beliau mengatakan demikian “Keren ya orang sekarang, rapatnya di Cafe”. Pertemuan terakhir kedua saat di BMG, kurang lebih beliau mengatakan demikian “orang Matematika itu bisa bekerja di mana saja, pola pikirnya itu sangat dibutuhkan”.

Selamat Jalan Pak Jorga, semoga legacy Bapak terhadap ilmu pengetahuan diteruskan oleh kolega, murid, dan para pengembang ilmu pengetahuan di seluruh dunia…