Katalis

Tadi alhamdulillah berkesempatan berbincang dengan Pak Subagjo, peneliti ternama di bidang katalis. Beliau ternyata asalnya dari Surabaya, mau ngomong Jowo tapi takutnya rekan saya dari mahasiswa tidak paham. Tadi saya jadi juru rekam saja alias bawa kamera, ngrekam dan ngefoto. Menariknya habis selesai prosesi wawancara, tanpa direkam kami berbincang banyak hal khususnya persoalan di bisnis katalis konteksnya Indonesia pastinya. Selanjutnya kami diajak keliling lab, ada tiga lab. Satu lab saja yang kami tidak ke sana yaitu lab instrumentasi. Banyak istilah kimia yang keluar dari perbincangan tadi, sayangnya saya banyak lupa 😦

Btw, sudah ada 11 menteri dalam setahun terakhir ini yang berkunjung ke lab katalis beliau. Saya menteri ke-12 hahaha :p

Sesuatu di Jogja

Musik berjudul “Sesuatu di Jogja” karya Adhitia Sofyan sedang saya dengarkan saat saya menulis artikel ini. Lirik lagu ini membuat saya terenyuh, teringat pada pengalaman saya di Jogja. Saya berada di kota ini terakhir pada 2009 silam dari 2003. Sejak saat itu kota ini menjadi kampung halaman kedua saya setelah Lamongan Jawa Timur, tempat kelahiran saya. Namun sejak berpindah ke Bandung pada 2009 silam sampai sekarang, ada satu hal yang hilang dari bagian hidup saya yakni tentang kesederhanaan yang diajarkan kota Jogja. Kesederhanaan yang diajarkan kota ini meskipun kita memiliki mimpi dan cita-cita, kita tetap bisa bersikap biasa saja pada siapapun. Saya merindukan masa di masa dulu hampir setiap malam saya nongkrong dengan kawan-kawan di angkringan hanya dengan memesan segelas teh manis dan dua bakwan. Saya kangen dengan Pak Suroso yang berjualan tepat di gerbang masuk jalan Pandu, Pak Giman (alm) yang berjualan di perempatan jalan Patangpuluhan, dan Bapak-Bapak lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Selain kesederhanaan, kota Jogja juga mengajarkan saya arti dari pertemanan dan persahabatan. Jika di Bandung pertemanan terbatasi atas kesibukan, di Jogja kesibukan dapat ditoleransi dengan pertemanan. Dulu saat kelas tiga SMA dengan kesibukan luar biasa les dan persiapan UN dan masuk PTN, saya tetap bisa nongkrong dan jalan-jalan dengan teman-teman tak peduli kapan. Jika suntuk pikiran, tinggal ke angkringan masalah selesai. Mungkin bisa jadi Jogja sekarang tidak seperti dengan Jogja dulu namun setidaknya kota ini dalam pikiran saya adalah kota yang menawarkan dua hal tadi yaitu kesederhanaan dan persahabatan. Meskipun hampir mustahil saya mendapatkan value Jogja sekarang, namun saya ingin untuk menghadirkan suasana kota ini dalam kehidupan sehari-hari saya.

Saya Bersama Mahasiswa

Hari ini dikabarkan telah dilangsungkan demonstrasi besar di berbagai kota di Indonesia seperti di Yogyakarta dengan Gejayan Memanggil. Demonstrasi yang dimotori mahasiswa ini dipicu oleh putusan DPR terkait beberapa UU yang dinilai menarik mundur spirit reformasi seperti RUU KPK dan RKUHP. Ditambah lagi dengan beberapa persoalan yang menambah panas situasi seperti kasus Papua yang belum juga meredam dan kebakaran hutan di Kalimantan. Kondisi ini membuat mahasiswa dan beberapa akademisi dan aktivis geram yang diwujudkan dengan turun ke jalan menuntut DPR mencabut putusannya.

Ketika membaca kabar atas RUU KPK dari berbagai sumber, saya menyimpulkan bahwa negeri ini tengah berada di cengkeraman elite politik dengan aganda pragmatisnya. Elite ini entah dari unsur eksekutif maupun legislatif secara bulat sepakat untuk melemahkan KPK disusul dengan UU lain. Keberadaan KPK adalah simbol kekuatan rakyat di tengah kuatnya ketidakpercayaan pada lembaga negara lain yang dipandang korup. Maka pelemahan KPK berarti pelemahan pada kekuatan rakyat. KPK memang belum bisa dikatakan berhasil memberantas korupsi, namun itu bukan berarti perlu dipreteli kewenanangannya, justru harus dikuatkan.

**

Kepada seluruh mahasiswa yang turut turun ke jalan saya ucapkan terima kasih karena mewakili banyak rakyat termasuk saya yang kecewa dengan keputusan DPR dan Pemerintah terkait beberapa hal krusial akhir-akhir ini seperi RUU KPK. Maju terus dan selamat berjuang …

Upgrade Laptop

Laptop yang saya beli sekitar tiga tahun lalu ternyata tidak cukup powerful untuk digunakan akhir-akhir ini. Maklum RAM-nya cuma 4GB, processor-nya AMD A6 dengan penyimpan dokumen berbasis Harddisk. Saat saya pakai browsing dengan membuka beberapa tab sekaligus, seringkali hang dan kemudian mati sendiri. Nah, mumpung beberapa pekan ke depan saya akan mulai belajar data analytics udah perlu banget bagi saya untuk upgrade spek laptop. Minggu lalu saya udah pasang SSD 240 GB, tinggal upgrade RAM. Rencananya dalam waktu dekat saya akan pasang RAM 8 GB.

Meskipun saat ini laptop saya masih gunakan RAM 4 GB, tapi kecepatannya jauh lebih kenceng dibandingkan beberapa waktu lalu saat belum pakai SSD. Apalagi nanti setelah upgrade RAM. Harapannya sih laptop bisa semakin kenceng dah dapat membantu saya dalam bekerja. Sebenarnya saya pengen ganti laptop tapi melihat harga laptop baru dengan spek tinggi cukup mahal, upgrade spek saya kira solusi yang tepat. Kemarin beli SSD 240 GB sekaligus pemasangan habis 622 ribu ditambah nanti RAM 8 GB mungkin sekitar 650 ribu, total sekitar 1.3 juta laptop dah kenceng.

Spek laptop dah baru, semoga semakin produktif.

 

Kotak Saran

Saya orang pertama yang memasukkan selembar kertas berisikan masukan ke Rektor ITB yang baru untuk masa bakti 2020-2024. Kotak ini sudah dari minggu lalu diletakkan di Gedung Information Centre namun belum satupun civitas yang memasukkan kertas inspirasi.

Satu poin masukan saya pada Rektor baru ITB yaitu Rektor harus mampu membenahi sengkarut Jalan Ganesha mulai dari penataan PKL sampai parkir. Sebenarnya ada poin masukan lainnya namun saya tulis yang paling penting dan urgen biarpun paling kompleks. Rektor yang mampu tangani ini saya yakin akan mudah tangani persoalan lain baik khususnya terkait masalah manajemen.

Kasus KPK dalam Pandangan Saya

Berita terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengemuka. Jika dulu ada kasus Cicak vs Buaya kini masalahnya jauh lebih besar dan kompleks. Kompleksitas dapat kita lihat dari dua hal yakni sisi perangkat hukum yakni UU yg mengatur KPK direvisi dan terpilihnya mayor jendaral kepolisian jadi Ketua KPK. Dua hal ini sama-sama tdk bisa diterima oleh aktivis pegiat korupsi.

KPK di awal pembetukannya diniatkan untuk menjadi lembaga independen yg tupoksinya pemberantasan korupsi yang mencakup penangkapan koruptor dan pencegahan korupsi. Bidikan KPK tak lain adalah para pejabat publik di berbagai lembaga negara/Pemerintah. KPK pastinya miliki daftar calon koruptor tinggal kapan dia mau tetapkan jadi tersangka tunggu barang bukti yang cukup. Pemilihan mana yang akan ditangkap pastinya ada kriterianya. Terkait hal ini saya belum tahu. Biarpun KPK independen namun dalam implementasinya bisa jadi bias ke kekuasaan karena atasan KPK adalah kepala negara yakni Presiden. Buktinya sampai saat ini, KPK belum pernah tetapkan mantan Presiden/Wapres jadi tersangka meskipun ada dari mereka terlibat dalam beberapa kasus besar.

Nah, jika atasan KPK langsung adalah Presiden, namun pemilihan pimpinan KPK ada pada wewenang DPR setelah calon-calonnya dipilih oleh Presiden melalui panitia seleksi khusus. Ditambah lagi UU yang mengatur KPK disahkan oleh DPR. Di sinilah akar masalahnya karena orang DPR pasti bisa bermain, juga pihak eksekutif yaitu sekeliling Presiden. Mereka semua adalah orang politik yang butuh bersih dari kasus korupsi. Pelumpuhan KPK adalah cara paling pas agar mereka selamat.

Lantas sikap saya bagaimana terhadap kasus KPK ini? Saya sependapat dengan para pegiat antikorupsi. KPK saat ini tengah dilemahkan. Sebagai seorang yang waras pastinya penolakan atas pelemahan ini adalah cara yang benar meskipun tantangannya juga besar. Negeri ini disadari/tidak faktanya dikuasai oleh elite. Film Gundala sedikit banyak telah menggambarkan. Tugas kita yang peduli akan kebenaran dan kebaikan adalah menyuarakan dan itu bentuk perlawanan.

Mengutup Nyai Ontosoroh kepada Minke :

“Kita tidak kalah Nyo, setidaknya kita pernah berjuang”

Failure

Last afternoon I met my teammate in research. One again he said to me that I am not good at writing a paper. I received his recognition, I don’t hate him. He gave me a lot of knowledge.

This is just beginning of my success in writing a good paper. I must learn harder than before. I have been spending my time in research for more than two years. So, if I give up I don’t know when I will take doctoral program. I want to pursue this degree in my young age like now.

Basically, I am good at managerial. The reason why I must to take PhD degree is to make me understand how to conduct a good research that I can use it in my career after that.

I dream to be a professional with specific expertise in the future. The entry point is by being a PhD graduate.

I still have two years to prepare. Never give up !