Back to My Routine

It’s not easy to move to a new habit especially how we spend our weekend. More than two years the holiday is like another weekday with the jobs should be done. I plan these days to be filled by enjoying activities such as watching movies, photography, taking sport, etc. But in reality, it’s not easy. Last week I contacted a new friend to be showed which gallery is good to be visited. Unfortunately, my mind drives us to finish my work about writing a book. I want this book finished this month.

I don’t have such burden in my work, maybe it have became alienated with refreshment. Refreshing is about doing work and play is same time.

Selamat Jalan Pak Tjia

Pagi tadi ketika membuka Facebook, saya membaca kabar bahwa Prof. Tjia May On (Pak Tjia) meninggal dunia. Kabar ini jelas mengagetkan karena awal Oktober lalu saya sempat menemui beliau untuk wawancara. Ternyata itu adalah hari terakhir saya bisa bertemu beliau secara langsung. Wafatnya beliau jelas membuat banyak orang yang merasa kehilangan terutama para civitas baik dosen maupun mahasiswa di Departemen Fisika. Beliau memang telah pensiun belasan tahun lalu, namun hampir setiap hari beliau tetap ke kampus untuk membimbing atau sekedar bercengkerama dengan kolega beliau di Fisika. Teringat ungkapan beliau saat kami tanya kesediaanya diwawancara, beliau katakan datang aja kapanpun ke kantor. Ini menunjukkan bahwa beliau terbuka pada semua orang bahkan ke orang-orang yang belum dikenalnya.

Kami sempat wawancara sekitar setengah jam, ada rekamannya. Pesan beliau untuk 100 tahun ITB juga ada. Meskipun saya bukan orang Fisika, saya amat kagum pada beliau terutama pada sikap beliau yang amat ramah pada siapapun. Juga pastinya dedikasi beliau pada ilmu pengetahuan. Satu lagi, komitmen beliau pada waktu makan siang bersama istri. Beliau datang pagi ke Fisika lalu jam makan siang sudah akan ada yang menjemput beliau. Beliau amat mencintai istrinya. Selamat jalan Pak Tjia, karyamu abadi …

Seminggu Nggak Nge-Blog

Terakhir saya nge-blog minggu lalu. Mungkin karena sibuk jadi saya tidak menulis di blog ini padahal cukup banyak peristiwa penting yang saya alami selama seminggu terakhir. Paling saya ingat setidaknya dua hal. Pertama, kantor punya kamera baru merk Canon 700D jika tidak salah. Saya sempat mencobanya hari minggu lalu. Mungkin ke depan akan jadi teman saya di samping Fujifilm XA10 yang saya beli setahun lalu. Kedua, kemarin saya dikasi kuliah oleh barista Eiger terkait tiga hal yang perlu dipersiapkan untuk mengenal cewek ; tampilan, komunikasi, dan percaya diri. Ketiganya harus dilatih karena tidak ada resep khusus.

Sejak habis maghrib ngopi di kafe kebanggaan saya coba menyicil kerja membuat buku. Saya pengen coba cepat menyelesaikan supaya saya dapat bergegas menulis paper. Saya ingin sekali publikasi di jurnal juga menyiapkan menyicil proposal PhD. Tapi itu tidak mudah karena setiap hari saya harus mengkoordinasi sekitar 30 orang anggota tim yang mengerjakan beberapa projek. Saya suka dengan pekerjaan saya sekarang namun saya khawatir istri saya satu-satunya pada akhirnya hanya laptop. Saran dari Barista Eiger kemarin harus coba pelan-pelan dijalankan.

 

Bangun Subuh

Entah terakhir kapan saya bisa bangun subuh dan sholat jamaah di masjid yang hanya beberapa meter dari kosan. Hari ini saya memulai aktivitas pas setelah subuh ; membuka laptop, membuka jendela, menyeduh kopi, dan siap untuk mengedit buku yang masih dalam tahapan drafting. Udara Bandung pagi ini cukup dingin, membuat segar pikiran untuk memulai kembali berfikir.

Hari ini ternyata sudah jumat saja, artinya besok weekend lalu sudah senin lagi. Hari ternyata begitu cepat. Tidak ada alasan saya untuk tidak segera bergegas selesaikan kerjaan. Saya kangen Ilham, pengen pulang ke kampung halaman lagi akhir tahun atau awal tahun depan.

Korupsi karena Gaji Kecil

Berita viralnya gaji Bupati Banjarnegara yang kurang dari 6 juta membuat saya berpendapat bahwa bisa jadi itu bisa menjadi pintu masuk (entry point) seorang pejabat daerah untuk korupsi. Jumlah tersebut yang setiap bulannya masuk ke rekening kepala daerah tersebut. Memang belum ditambah uang aspirasi sejumlah 1 juta per hari berdasarkan pengakuan dari Bupati tersebut. Uang sekitar 30 juta dalam sebulan peruntukannya memang bukan untuk pribadi melainkan untuk kunjungan ke warga. Jika dipakai pribadi akan menjadi besar take home pay yang didapatkan Bupati tersebut, namun jika Ia menggunakannya untuk peruntukan semestinya (aspirasi) jadi kecil gaji yang didapatkannya dalam sebulan.

Ada benarnya yang disampaikan Bupati Budhi Sarwono ini bahwa kecilnya gaji membuat banyak Bupati membenarkan korupsi. Dalam Pilkada umumnya dana yang dikeluarkan sangat besar membuat kepala daerah jika terpilih memikirkan bagaimana caranya modal ini balik. Pemikiran ini manusiawi. Tinggal bagaimana caranya mengembalikan modal ini apakah dengan jalan halal melalui gaji yang didapatkannya dalam sebulan atau dengan jalan haram melalui penggunaan dana tidak sebagaimana peruntukannya atau memainkan projek Pemda yang jumlahnya ratusan milyar.

Saya tidak sepakat menjadi kepala daerah adalah pengabdian makanya membicakan gaji menjadi tidak elok. Meskipun kepala daerah ini kaya raya sebelum dia menjabat, tetap dia harus digaji cukup. Setidaknya dalam urusan pembangunan daerah uang yang didapatkan dari Pemerintah lebih dari cukup. Gaji yang cukup ini definisinya sesuai dengan beban dan tanggung jawab yang diemban maka jumlahnya tidak bisa disamaratakan untuk semua daerah. Gaji yang cukup ini adalah justifikasi bagi KPK untuk menangkap Bupati yang korupsi.

Jangan-jangan pelemahan KPK melalui UU KPK yang baru adalah pembenaran kepada Kepala Daerah untuk bertindak korupsi mengingat gaji mereka yang kecil sedangkan biaya mereka saat Pilkada dan juga pajak Partai terlampaui besar ? Tak hanya kepala Daerah, DPRD juga demikian.

Jika yang dikatakan Bupati Banjarnegara ini adalah fakta, maka penegakan korupsi tidak cukup hanya penguatan KPK namun juga penaikan gaji Kepala Daerah atau pejabat setingkatnya. Tapi apakah Pemerintah pusat mau melakukan ini ? Yang jelas KPK dengan UU baru yang mengaturnya memperlemah wewenang KPK jadi secara tidak langsung membolehkan Kepala Daerah untuk ‘bermain’ dengan sumber dana subhat dan haram.

Waktu Kosong

Saya merindukan waktu kosong di mana saya bisa menggunakannya hanya untuk baca paper dan menulis buku. Saya amat susah memiliki waktu itu sekarang mengingat saya dihadapkan dengan pekerjaan rutin yang tidak akan pernah selesai. Saya sebenarnya telah mengalokasikan waktu untuk membaca dan menulis pagi habis subuh dan sore habis pulang kerja namun tetap tidak bisa efektif. Menulis adalah kerja kreatif dan itu tidak bisa dipaksa di waktu khusus. Menulis butuh inspirasi. Tadi pagi saat ngopi di pasar Tjihapit saya mendapatkan semangat untuk itu. Saat ini saya berusaha untuk mempertahankan semangat itu pastinya dengan mengorbankan pekerjaan lain. Saya kira kita tidak bisa mendapatkan semuanya karena kita harus memilih. Tuhan hanya memberi 24 jam saja sehari.

Di tengah waktu yang tidak banyak, saya berusaha memakainya untuk menulis. Target saya di hari ultah saya akhir tahun ini saya berhasil menulis 1 buku dan paper untuk konferensi internasional. Saya kira ini adalah target realistis di tengah kesibukan saya yang amat padat di tahun ini.