Kasus KPK dalam Pandangan Saya

Berita terkait Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengemuka. Jika dulu ada kasus Cicak vs Buaya kini masalahnya jauh lebih besar dan kompleks. Kompleksitas dapat kita lihat dari dua hal yakni sisi perangkat hukum yakni UU yg mengatur KPK direvisi dan terpilihnya mayor jendaral kepolisian jadi Ketua KPK. Dua hal ini sama-sama tdk bisa diterima oleh aktivis pegiat korupsi.

KPK di awal pembetukannya diniatkan untuk menjadi lembaga independen yg tupoksinya pemberantasan korupsi yang mencakup penangkapan koruptor dan pencegahan korupsi. Bidikan KPK tak lain adalah para pejabat publik di berbagai lembaga negara/Pemerintah. KPK pastinya miliki daftar calon koruptor tinggal kapan dia mau tetapkan jadi tersangka tunggu barang bukti yang cukup. Pemilihan mana yang akan ditangkap pastinya ada kriterianya. Terkait hal ini saya belum tahu. Biarpun KPK independen namun dalam implementasinya bisa jadi bias ke kekuasaan karena atasan KPK adalah kepala negara yakni Presiden. Buktinya sampai saat ini, KPK belum pernah tetapkan mantan Presiden/Wapres jadi tersangka meskipun ada dari mereka terlibat dalam beberapa kasus besar.

Nah, jika atasan KPK langsung adalah Presiden, namun pemilihan pimpinan KPK ada pada wewenang DPR setelah calon-calonnya dipilih oleh Presiden melalui panitia seleksi khusus. Ditambah lagi UU yang mengatur KPK disahkan oleh DPR. Di sinilah akar masalahnya karena orang DPR pasti bisa bermain, juga pihak eksekutif yaitu sekeliling Presiden. Mereka semua adalah orang politik yang butuh bersih dari kasus korupsi. Pelumpuhan KPK adalah cara paling pas agar mereka selamat.

Lantas sikap saya bagaimana terhadap kasus KPK ini? Saya sependapat dengan para pegiat antikorupsi. KPK saat ini tengah dilemahkan. Sebagai seorang yang waras pastinya penolakan atas pelemahan ini adalah cara yang benar meskipun tantangannya juga besar. Negeri ini disadari/tidak faktanya dikuasai oleh elite. Film Gundala sedikit banyak telah menggambarkan. Tugas kita yang peduli akan kebenaran dan kebaikan adalah menyuarakan dan itu bentuk perlawanan.

Mengutup Nyai Ontosoroh kepada Minke :

“Kita tidak kalah Nyo, setidaknya kita pernah berjuang”

Advertisements

Failure

Last afternoon I met my teammate in research. One again he said to me that I am not good at writing a paper. I received his recognition, I don’t hate him. He gave me a lot of knowledge.

This is just beginning of my success in writing a good paper. I must learn harder than before. I have been spending my time in research for more than two years. So, if I give up I don’t know when I will take doctoral program. I want to pursue this degree in my young age like now.

Basically, I am good at managerial. The reason why I must to take PhD degree is to make me understand how to conduct a good research that I can use it in my career after that.

I dream to be a professional with specific expertise in the future. The entry point is by being a PhD graduate.

I still have two years to prepare. Never give up !

Midsommar

Perasaan baru pertama aku nonton film dengan genre thriller kayak Midsommar. Film ini berkisah tentang sekelompok anak muda yang mengunjungi sebuah masyarakat yang menganut adat tertentu bernama Harga di Swedia. Mereka ini berjumlah 6 orang, 4 orang Amerika (Dani, Christian, Josh, Mark) dan 2 orang dari Inggris (Simon dan Connie). Satu dari mereka yaitu Josh mengambil topik penelitian PhD terkait masyarakat Harga dengan pendekatan  antropologis di mana mensyaratkan berinteraksi langsung dengan objek (live-in). Dalam proses penelitian ini, Josh dibimbing oleh temannya yang asli daerah sini bernama Pelle.

Film ini diawali dengan pengalaman aneh yang dialami Dani di mana dia seolah dapat melihat dunia lain sebelum sampai di desa Harga ini. Sampai-sampai pacar Christian ini pingsan. Setibanya di desa Harga, mereka seolah tidak mendapati keanehan. Namun hal ganjil muncul pas mereka ikuti ritual tertentu (lupa saya namanya) di mana sesepuh desa setelah makan bersama diarak ke sebah tebing. Mereka berdua (seorang Bapak dan Ibu tua) terjun dari tebing yang tinggi. Ibu ini mati seketika sementara namun tidak dengan Bapak. Melihat lelaki tua ini sekarat, para pemuka adat membawa palu kayu besar dan ‘mengepruk’ kepala Bapak tua ini sampai mati. Pada anak muda yang ikut upacara ini seketika berteriak. Simon bahkan memaki-maki orang-orang Harga.

Pasca ritual ini, kejadian horor lebih muncul lagi. Setelah hilang secara misterius Simon, kemudian disusul dengan Mark yang mengencingi pohon leluhur warga sini dan disusul Josh. Sementara Connie pasca ritual horor ini meninggalkan lokasi dan setelah itu gak ada kabar lagi. Matinya Josh terjadi ketika dia memfoto kitab suci orang sini. Jenazah Josh dan Mark didapati Christian di sebuah kandang setelah Christian dipaksa menyetubuhi seorang perempuan muda Harga yang menyukainya. Singkat cerita Dani diangkat sebagai Ratu setelah memang kompetisi dengan para perempuan di sini dan Christian pacarnya dibakar sebagai tumbal beserta 8 orang lainnya.

Seperti genre, film ini meskipun bukan film hantu tapi gila serem banget. Oh ya, suku Harga seperti diangkat di film ini apakah betul-betul ada layak untuk dicari.

Selamat Jalan Pak Habibie, Pahlawan Teknologi Indonesia

Dikabarkan berbagai media ternama Indonesia bahwa setengah jam lalu Baharuddin Jusuf Habibie (Pak Habibie) meninggal dunia. Pastinya kita semua berduka atas berita ini. Beliau amat berjasa bagi Indonesia khususnya bagi pengembangan teknologi Indonesia. Bagi saya beliau adalah Bapak teknologi Indonesia. Terlepas ada beberapa hal yang saya tidak sepakat dengan pemikiran teknologi beliau, namun saya tetap angkat topi pada beliau yang berjuang dari muda untuk mengembangkan teknologi Indonesia melalui pengembangan industri strategis nasional khususnya IPTN (kini PTDI).

Beliau adalah Menristek satu-satunya Indonesia yang benar-benar berjuang untuk pengembangan teknologi Indonesia secara substansial. Belum ada lagi setelah beliau. Satu legacy beliau pada bangsa yaitu ditetapkannya tgl 10 Agustus sebagai Hari Teknologi Nasional (Harteknas) sebagai pengingat penerbangan perdana N250 pada 10 Agustus 1995, simbol Indonesia sebagai bangsa lepas landas menuju negara maju.

Semoga suatu saat bisa menuliskan terkait pemikiran beliau terkait pembangunan teknologi Indonesia.

Selamat jalan Pak Habibie, innalillahi wa innailahi roojiuun

Mixed Language

Awalnya blog ini saya peruntukkan untuk bahasa Inggris, semata-semata untuk belajar menulis dengan teks english. Tapi sudah sekitar tiga tahun saya menulis di sini, kemampuan bahasa Inggris saya begitu-begitu saja. Saya tidak puas. Saya menjadi seorang yang seolah tidak kreatif. Ketika akan menerangkan sesuatu, saya terjebak dengan kosakata bahasa Inggris yang minim. Padahal, blog ini dibuat untuk tulisan yang sifatnya spontan. Atas pertimbangan tersebut, blog ini akan memakai dual bahasa, bahasa dan english.

Bagi saya, paling penting dari sebuah tulisan adalah sisi kreativitas. Saya punya mimpi untuk buat novel best seller di kemudian hari. Maka, setiap hari saya harus berlatih untuk bisa menulis kreatif meskipun sumber tulisan dari pengalaman sehari-hari. Menulis bagi saya adalah obat saya untuk berbicara pada semesta, juga menjadi obat stres di tengah pekerjaan rutin yang tak pernah selesai.

Blog ini kini diikuti oleh sekitar 80 orang dengan sebagian besar adalah pengguna bahasa Inggris aktif. Mungkin setelah ini akan ada follower pengguna bahasa Indonesia. Jika blog domain [dot]com, medium, dan kompasiana cenderung serius, blog ini tidak karena lebih menceritakan pengalaman saya sehari-hari. Pada dasarnya saya suka ngobrol, namun kondisi saat ini tidak memungkinkan saya untuk bisa ngobrol dengan orang berjam-jam, saya kira blog ini bisa mewakilinya.

David Rubenstein

If I am not wrong, I firstly watched David Rubenstein Show last two weeks. I then falled in love with this show. David is briliant with in-depth interview. One example when he did peer to peer conversation with Jeff Bezos, founder of Amazon.com. His straight question made Bezos laughed out loud. Doing in-depth interview with sharp questions is not easy. You must have some enough knowledge and experience.

After watching the videos, I then dreamed that someday I will be next David, interviewing some success Indonesian people such as entrepreneur, business leader, and top level management.

I hope that there is national media hiring me to be next David 🙂