Website Pribadi Off

Sejak 4 Juli 2020 lalu website pribadi saya, uruqulnadhif.com, off sementara waktu. Waktunya saya memperpanjang masa aktif domain untuk setahun ke depan. Karena saya berencana pindah provider, saya menunggu sekitar sebulan untuk proses migrasi ini berdasarkan arahan teman mahasiswa. Konsekuensinya website pribadi saya untuk sebulan ini tidak akan bisa diakses.

Ini kali pertama saya diamkan website pribadi saya. Tapi saya tetap bisa menulis di blog saya yang lain kayak wordpress ini dan medium. Meskipun ada perasaan sayang tidak bisa liat website utama tapi tidak masalah lah untuk ke depan lebih baik. Bergantinya provider harapannya membuat saya tidak bergantung pada teman yang biasanya mengurusi hal ini. Bertahun-tahun saya jika pengen perpanjang domain web harus kontak teman trus teman yang mengurusi ke pihak provider. Jika teman sulit dikontak misalkan, saya kan akhirnya repot.

Saya kira mekanisme baru dalam perpanjangan domain web ini selaras dengan semangat baru 100 tahun Pendidikan Teknik di Indonesia yang jatuh 3 Juli 2020 lalu. Harapannya nanti tampilan web saya pas sudah “ON” jadi baru, hehe

100 Tahun

Seabad yang lalu, 3 Juli 1920, de Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandoeng) didirikan oleh beberapa saudagar Belanda. Didirikannya kampus ini adalah untuk melayani kepentingan mereka di tanah jajahan, Hindia Belanda (selanjutnya setelah merdeka pada 1945 menjadi Indonesia). Perguruan Tinggi tersebut merupakan yang pertama ada di tanah air.

Selanjutnya TH setelah mengalami proses panjang kemerdekaan menjadi Institut Teknologi di Bandung pada 2 Maret 1959 yang kemudian dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Seratus tahun kemudian, tepat hari ini diperingati sejak berdirinya TH sebagai peringatan 100 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI).

100 tahun pastinya mengandung makna mendalam bagi ITB tersendiri khususnya bagi para pengembang sains dan teknologi di Indonesia. Kamis kemarin (2/7) saya turut serta berdiskusi dengan para pelaku sejarah seperti Pak Bambang Hidayat dari Astronomi dan Pak Bana G. Kartasasmita dari Matematika. Acara yang dipandu Pak Iwan dengan format webinar ini sangat menarik.

Di momen seabad ini, saya berbangga karena turutserta berkontribusi sedikit pada ITB seperti menjadi bagian dari tim untuk mengubah wajah website official dan juga sebagai bagian dari redaksi majalah ITB Magz yang kembali terbit sejak 2013 silam. Kontribusi ini mungkin akan terus saya ingat karena pas di hari bersejarah 100 tahun.

Saya coba akan menuliskan pandangan saya dalam bentuk teks panjang terkait 100 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia ini di salah satu blog saya medium. Laptop sudah di depan saya, saatnya mulai menulis…

COVID Semakin Dekat

Saya tidak menduga bahwa covid telah menyerang orang terdekat. Tadi pagi saya mendapatkan kabar dari Bapak jika kakak sepupu meninggal karena covid di satu daerah di jatim. Kakak sepupu ini sering main ke rumah, saya mengenal dekat sejak SD. Pastinya kaget karena sebelumnya tidak ada dari orang dari pihak keluarga kena apalagi sampai meninggal. Bapak mengatakan kalo di lingkungan kakak sepupu ini yang kena sudah cukup banyak, sudah ada 3 orang pasar yang meninggal. Pasar bisa jadi kluster baru yang mungkin akan didatangi petugas covid untuk di-rapid test.

Kejadian yang menimpa keluarga sendiri membuat saya harus berpikir dua kali untuk sekedar ngopi atau bertemu orang.

Saya yakin yang terkena covid sebenarnya bisa jadi berkali-kali lipat dari yang data yang disampaikan Pemerintah. Idealnya setelah kejadian ini orang-orang yang pernah kontak dengan korban harus dicek, petugas setempat melakukan tracing secara cepat. Tapi nyatanya itu belum terjadi, setidaknya itu yang bisa saya simpulkan dari obrolan dengan Bapak. Kita seolah tidak bisa mengandalkan Pemerintah atas pandemi ini, kita sendiri yang harus bertanggung jawab atas diri kita supaya tidak tertular.

Selain kita harus berhati-hati dengan mengikuti protokol, jangan lupa faktor “luck” dan tentunya pertolongan yang di atas yang membuat kita bisa terhindar dari covid.

Lama Nggak Ngeblog

Lebih dari tiga bulan saya tidak potong rambut, sekarang dah mayan lebat. Niatnya pengen saya panjangin supaya ada yang diingat dari masa pandemi ini. Dulu ada niatan buat video lebaran di rantauan akibat pandemi dan video ultah ponakan saya, tapi nggak juga digarap karena ternyata habis lebaran load kerjaan jadi lebih besar. Memang tidak bisa dipungkiri habis lebaran, gairah bekerja hidup lagi. Saya lihat di kantor yang saat dan pra puasa cuma dikit sekali orang yang umumnya dari kantor saya (akibat ada kebijakan piket), kini saya lihat lebih banyak. Sholat jamaah di masjid yang dulunya satu shaf, kini bisa sampai 2 shaf lebih dikit.

Saya dah tiga hari saat pagi tidak ngopi, besok niatnya mau bangun pagi trus ngopi sembari nyelesaian tulisan draft buku. Saya pengen segera nyelesain buku biar agak tenang sebelum ngerjakan hal lain yang mungkin lebih besar. Saya juga pengen banget pulang minimal 1 minggu lah. Kangen Ibuk, Bapak, ponakan, dan sodara. Pulang juga sebagai ganti lebaran kemarin yang tidak bisa kemana-mana. Lihat kondisi pandemi yang belum reda kayak gini mungkin tidak bisa dalam waktu dekat, tapi saya berharap dalam 1-2 bulan ke depan bisa lah saya pulang.

Nanti jam 10 akan ada webinar dari University of Toronto. Ini webinar kedua yang saya dari kampus ini. Tema untuk malam ini Perguruan Tinggi di Era Pandemi. Kelihatannya menarik, saya nyantai dulu sembari dengerin lagu2 Dedi Kempot :p

28 Mei 2020

Tiga hari lagi akan memasuki bulan Juni, namun pandemi corona belum juga usai. Saya lihat geliat akademisi dari luar negeri yang giat mengadakan webinar. Saya kira di Indonesia juga sama. Saya yakin banyak orang yang terpaksa berdaptasi dengan kondisi ini untuk tetap bisa berkarya, bagaimanapun caranya. Berkarya adalah masalah mengalahkan rasa “malas” diri yang sumbernya bisa beranekaragam seperti karantina mandiri bisa menjadi salah satu penyebabnya. Mengalahkan rasa malas ini tidak bisa dengan dipaksa karena bisa berujung stres yang pastinya kontraproduktif, namun harus dihadirkan rasa senang. Rasa senang ini umumnya hadir dalam hobi namun tidak dengan pekerjaan meskipun sumbernya juga dari hobi. Hal ini dimungkinkan karena pekerjaan adalah terkait dengan target ; batasan waktu, standar, dan sebagainya yang itu tidak bisa terserah kita. Ada orang lain yang menentukan.

Saya kira seberapa besar tekanan, pekerjaan harus selesai. Meskipun harus dilalui stres dan puyeng karena itu adalah satu paket. Apalagi pekerjaan yang terkait dengan mikir, pastinya stresnya berlapis. Tinggal bagaimana kita mengelolanya. Untuk menyelesaikan pastinya harus difokuskan. Tanpa fokus, pekerjaan tidak akan usai yang membuat kita lambat naik level. Pekerjaan tidak untuk keren-kerenan tapi untuk diselesaikan. Setelah selesai pindah ke pekerjaan lain karena itulah hidup. Lalu kapan berhentinya ? Mati, saat raga terpisah dengan ruh. Tapi bagi orang yang beriman, ruh ini akan dimintai pertanggungjawaban di alam lain. Berarti pekerjaan akan tetap ada meskipun bentuknya sangat berbeda dengan yang ada di dunia.

Duh, tapi diri ini masuk kategori beriman tidak ya? Hati : “_____________”.